PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Sunday, 17 June 2018

Best Profit | RI Tak Bisa Hindari Pengaruh Suku Bunga The Fed

Best Profit (18/6) - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Halim Alamsyah prediksi Bank Indonesia (BI) akan kembali menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas dan keseimbangan.

Kenaikan tersebut menyusul keputusan Bank Sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve (The Fed) yang kembali menaikkan suku bunganya pada Juni. "Kalau tren saya rasa perkembangan suku bunga kita kemungkinannya naik ya, karena suku bunga di AS itu naik," kata Halim saat ditemui di kediamannya, Jalan Raya Sriwijaya 1 No 10, Kebayoran, Jakarta Selatan, Sabtu (16/6/2018).

Halim menjelaskan, Indonesia mau tidak mau harus ikut menaikkan suku bunga acuan sebagai respons kenaikan suku bunga di AS. "Jadi kita di Indonesia sebagai negara yang perekonomiannya terbuka, itu tidak bisa menghindar dari pengaruh suku bunga di AS," ujar dia.

Halim menegaskan, perekonomian Indonesia sudah dalam kondisi yang seimbang dan relatif stabil sebelum AS menaikkan suku bunga agresif. Namun kondisi tersebut hampir berubah pasca kenaikan suku bunga AS yang cukup agresif. best profit

Kenaikan suku bunga di AS tersebut sempat membuat goyah dengan ditandai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Namun, BI dinilai mampu mengatasi kondisi tersebut sehingga keseimbangan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

"Sebelum ada kenaikan suku bunga di AS sebetulnya ya kita sudah ada keseimbangan, keseimbangan dalam pengertian dengan inflasi yang relatif sekitar 3-4 persen, pertumbuhan ekonominya yang kita lihat memang sekitar 5 persen, lalu nilai tukar yang juga stabil sekitar 12.000 - 13.000 ini sebetulnya adalah suatu keseimbangan,” ujar Halim.

Ia menambahkan, ketika bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan membuat perubahan dari faktor yang membentuk keseimbangan tersebut. "Oleh karena itu, BI membuat perhitungan baru bagaimana agar bisa mempertahankan equilibrium atau keseimbangan ini," kata dia.

Sebelumnya, The Federal Reserve (the Fed) atau Bank Sentral Amerika Serikat (AS) kembali menaikkan suku bunga pada Rabu. Kenaikan suku bunga ini sudah diperkirakan oleh analis dan ekonom. best profit

Dengan adanya kenaikan suku bunga ini menandakan tonggak pergeseran kebijakan Bank Sentral AS dari yang awalnya pelonggaran kebijakan moneter untuk memerangi krisis keuangan dan resesi pada 2007-2009 menjadi pengetatan kebijakan moneter.

Dalam kenaikan suku bunga pada Juni ini, the Fed mematok di kisaran 1,75 persen hingga 2 persen. Bank Sentral AS mengesampingkan janji sebelumnya bahwa mereka akan terus menahan suku bunga di kisaran rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Perekonomian sudah berjalan dengan baik," jelas Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell dalam konferensi pers usai Rapat Komite Pasar Terbuka (Federal Open Market Committee).
"Seluruh indikasi ekonomi menunjukkan perbaikan. data tenaga kerja, inflasi dan lainnya sesuai dengan perkiraan," jelas dia.

Ekspektasi ekonomi yang sudah baik menjadi pendorong Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunga sebanyak 7 kali sejak 2015 lalu.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang cerah ini menjadi landasan bank the Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan awal pada beberapa bulan mendatang. Diperkirakan akan ada dua kali kenaikan lagi pada tahun ini. best profit

Sumber : Liputan6