PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Register on your mobile device . make your move easier

Tuesday, 31 January 2017

Ketidakpastian Trump Dongkrak Harga Emas | Bestprofit

Bestprofit (1/2) - Harga emas terus merangkak naik karena gaya kepemimpinan dari Presiden AS Donald Trump menimbulkan ketidakpastian. Volatilitas di pasar saham dan juga pelemahan dolar AS akan mendorong kenaikan harga emas.
Mengutip Reuters, Rabu (1/2/2017), harga emas di pasar spot naik 1,6 persen menjadi US$ 1,214.19 per ounce di New York Mercantile Exchange.
Analis dari IVA Worldwide Fund, Charles de Vaulx, menjelaskan bahwa volatilitas pasar saham sangat tinggi. Banyak ketidakjelasan yang membuat pasar saham naik atau turun dengan cepat.
"Dengan ketidakpastian dari kebijakan Trumps dan juga tanya tanya besar apakah ia bisa bekerja sama dengan Kongres membuat volatilitas saham tinggi," jelas dia.
Charles de Vaulx menjelaskan, dalam jangka pendek, berbagai macam kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Trump akan mendorong pelemahan nilai tukar dolar AS.
Dengan pelemahan tersebut memberikan kekuatan bagi emas untuk naik. Harga emas akan diperdagangkan lebih tinggi karena pelaku pasar mencari instrumen yang memiliki imbal hasil yang cukup stabil.
Sebenarnya, dalam pemerintahan Trump yang masih singkat ini, emas merupakan aset atau insturmen investasi dengan kinerja paling buruk.
Sesaat setelah Trump dinyatakan menang, dolar AS dan pasar saham menguat sehingga mendorong harga emas jatuh. Selain itu, kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Sentral AS di akhir Desember kemarin semakin menekan harga emas.
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Monday, 30 January 2017

Harga Emas Naik Terpicu Kebijakan Imigrasi AS dan Politik Eropa | Best Profit

Best Profit (31/1) - Harga Emas naik pada akhir perdagangan Selasa dinihari (31/01) pada ketidakpastian politik terkait kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump dan pemilu di Eropa yang mendukung harga.
Harga emas spot LLG naik 0,47 persen pada $ 1,194.00 per ons. Itu dibandingkan dengan 2,5 minggu terendah Jumat $ 1,180.65.
Harga emas berjangka AS naik $ 4,90 untuk berakhir di $ 1.196.
Pedagang melaporkan aktivitas tenang karena liburan Tahun Baru Imlek di banyak negara Asia dan beberapa kehati-hatian sebelum pertemuan dua hari Federal Reserve pada kebijakan moneter yang dimulai pada hari Selasa. Best Profit
Analis Commerzbank menyatakan arah emas masa depan akan tergantung pada dolar AS, kebijakan moneter AS dan suku bunga jangka panjang. Juga larangan imigrasi menambahkan ke sentimen risiko dan mendorong emas sebelumnya, juga ada risiko juga politik yang datang dalam pemilu di Perancis dan Belanda.
The Fed menaikkan suku bunga pada bulan Desember dan pada waktu itu mengisyaratkan sebanyak tiga kenaikan pada tahun 2017 sebagai pemerintahan Trump mengambil alih dengan janji-janji untuk meningkatkan pertumbuhan melalui pemotongan pajak, pengeluaran dan deregulasi.
Suku bunga yang lebih tinggi bisa berarti mata uang AS yang lebih tinggi, yang membuat emas dalam denominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, berpotensi mengurangi permintaan.
Negatif untuk emas bisa memicu tindakan spekulan memotong posisi net long mereka di pasar berjangka, setelah dua minggu berturut-turut meningkat, menurut data dari CFTC, yang juga menunjukkan mereka meningkatkan kepemilikan perak mereka ke tertinggi sejak awal November.
Spot perak naik sedikit pada $ 17,08 per ons dan paladium naik 0,11 persen menjadi $ 736,80 per ons. Platinum naik 0,19 persen menjadi $ 985,50.
Sumber : Vibiznews

Sunday, 29 January 2017

Minyak Turun Ditengah Meningkatnya Langkah Pengeboran AS | PT Bestprofit

PT Bestprofit (30/1) - Minyak turun untuk hari kedua di tengah meningkatnya spekulasi pada pengeboran AS yang akan meningkatkan output dan mengurangi efek dari pengurangan pasokan oleh OPEC dan produsen lainnya guna menyeimbangkan pasar.
Kontrak berjangka turun 0,4 persen di New York setelah merosot 1,1 persen pada hari Jumat. Rig menargetkan minyak mentah di AS naik pada pekan lalu sebesar 15 hingga 566, yang terbesar sejak November 2015, menurut laporan dari Baker Hughes Inc, Jumat. Produksi minyak mentah Amerika berada di level tertinggi sejak April, data pemerintah menunjukkan. Pasokan minyak dari OPEC yang menurun pada bulan ini, menurut tanker-tracker Petro-Logistics SA.
Harga minyak telah diadakan di atas $ 50 per barel karena Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan negara-negara termasuk Rusia sepakat untuk memangkas pasokannya untuk mengurangi persediaan global yang berlebihan. Badan Energi Internasional mengatakan kenaikan harga akan memacu output AS dan pengebor menambahkan jumlah rig.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun 22 sen ke level $ 52,95 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 10:49 pagi waktu Sydney. Total volume perdagangan sekitar 34 persen di bawah 100-hari rata-rata. PT Bestprofit
Brent untuk pengiriman Maret merosot 26 sen atau 0,5 persen, ke level $ 55,26 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Tolok ukur global diperdagangkan pada $ 2,31 premium untuk bulan Maret dibandingkan minyak WTI. (knc)
Sumber : Bloomberg

Thursday, 26 January 2017

Wall Street Bergerak di 2 Arah, Dow Jones Masih Cetak Kenaikan | Best Profit

Best Profit (27/1) - Wall Street bergerak di dua arah pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi waktu Jakarta) pekan ini setelah reli dalam dua hari sebelumnya. Beberapa saham yang memiliki kinerja tak sesuai dengan ekspektasi menjadi pemberat gerak indeks acuan.
Mengutip Reuters, Jumat (27/1/2017), Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 32,40 poin atau 0,16 persen menjadi 20.100,91. Kebalikannya, Indeks S&P 500 kehilangan kekuatan 1,69 poin atau 0,07 persen ke 2.296,68 dan Nasdaq Composite turun 1,16 poin atau 0,02 persen ke 5.655,18.
Beberapa saham yang membukukan kinerja di bawah perkiraan menjadi pemberat gerak indeks acuan. Salah satu contohnya adalah Qualcomm. Kinerja dari perusahaan pembuat chip ini membukukan pertumbuhan pendapatan kuartalan lebih rendah dari perkiraan sehingga membuat sahamnya anjlok 5 persen ke US$ 54,05.
Sejak awal pekan sebenarnya Wall Street bergerak di zona hijau. Optimisme dari kebijakan Presiden AS Donald Trump yang pro pertumbuhan ekonomi menjadi katalis positif pertumbuhan indeks.
Dalam perdagangan dua hari terakhir kemarin indeks S&P 500 mampu membukukan kinerja terbaik dalam tujuh pekan terakhir dan Dow Jones mampu mencetak kinerja di atas 20.000 untuk yang pertama kalinya.
Kinerja dari emiten juga telah menujukkan perbaikan. Beberapa perusahaan membukukan laba yang positif. Dari 146 perusahaan yang telah melaporkan pendapatan kuartal IV, 69,2 persen melampaui ekspektasi.
"Penurunan yang terjadi di beberapa saham sebenarnya hanya jeda setelah membukukan kenaikan terus-menerus selama enam pekan," kata Vice President of Trading and Derivatives Charles Schwab in Austin, Texas, AS, Randy Frederick.
Ia melanjutkan, jika memang semua data ekonomi membaik, angka penghasilan dan tenaga kerja positif serta Donald Trump tidak mengeluarkan kebijakan yang negatid maka tidak ada alasan bagi Wall Street untuk bergerak di zona merah.
Sumber : Liputan6

Wednesday, 25 January 2017

Bursa Wall Street Cetak Rekor Tertinggi; Dow Jones Tembus Level 20,000 | PT Bestprofit

PT Bestprofit (26/1) - Bursa saham AS berakhir tertinggi sepanjang masa pada akhir perdagangan Kamis dinihari (26/01) setelah serangkaian perintah eksekutif dari Presiden Donald Trump mendorong sentimen bullish di Wall Street, sementara sektor keuangan mengungguli.
Indeks Dow Jones industrial average tembus di atas level 20.000 untuk pertama kalinya, naik sekitar 150 poin dengan saham Boeing, Goldman Sachs dan IBM memberikan kontribusi paling besar dalam keuntungan.
Para analis mengatakan bahwa mayarakat melihat pemerintah yang baru melakukan beberapa hal yang mereka janjikan.
Indeks S & P 500 menguat 0,8 persen ke semua-waktu tinggi baru, dengan sektor keuangan naik lebih dari 1,5 persen.
Indeks komposit Nasdaq naik 0,99 persen, juga membukukan rekor tinggi.
Para pedagang telah menunggu rincian lebih lanjut tentang belanja infrastruktur dan sekarang mereka memilikinya dalam format yang sangat jelas.
Pada hari Selasa, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang akan membuat lebih mudah bagi TransCanada untuk membangun pipa Keystone XL dan Transfer Energy Partners untuk membangun bagian akhir yang belum selesai dari pipa Dakota Access. Perintah tersebut membantu mengangkat sektor bahan untuk keuntungan 2,5 persen pada Selasa.
Trump juga meluncurkan perintah eksekutif imigrasi pada hari Rabu, termasuk salah satu terkait keamanan perbatasan dan niat untuk membangun dinding di sepanjang perbatasan selatan AS, dan lain memperkuat penegakan hukum imigrasi.
Saham AS rally signifikan mengikuti pemilihan presiden, dengan S & P 500 maju 6,57 persen sejak 8 November, memasuki perdagangan Rabu. Reli sebagian besar didorong oleh prospek dari pajak perusahaan yang lebih rendah, deregulasi sektor-sektor tertentu dan pengeluaran pemerintah lebih besar.
Investor juga memperhatikan serangkaian hasil kuartalan perusahaan, sebagai emiten Dow Boeing membukukan laba dan pendapatan yang mengalahkan ekspektasi Wall Street. United Technologies, emiten Dow lain, membukukan laba dan penjualan yang sebagian besar memenuhi ekspektasi analis.
AT & T, eBay, Qualcomm, F5 Networks, Las Vegas Sands, Vertex Pharma dan Western Digital adalah perusahaan besar yang melaporkan setelah pasar tutup.
Dalam berita ekonomi, indeks harga rumah FHFA naik 0,5 persen pada November. sementara itu suku bunga KPR, naik 4 persen pekan lalu.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 155,80 poin, atau 0,78 persen, menjadi ditutup pada 20,068.51, dengan kenaikan tertinggi saha, Boeing dan saham Procter & Gamble yang tertinggal.
Indeks S & P 500 naik 18,30 poin, atau 0,80 persen, menjadi berakhir pada 2,298.37, dengan sektor keuangan memimpin delapan sektor yang lebih tinggi dan sektor real estate yang tertinggal.
Indeks Nasdaq naik 55,38 poin, atau 0,99 persen, menjadi ditutup pada 5,656.34.
Sumber : Vibiznews

Tuesday, 24 January 2017

Bakso Jadi Rebutan dalam Festival Budaya RI di Melbourne | Bestprofit

Bestprofit (25/1) - Keberagaman makanan Indonesia di Australia disambut antusias di acara Beach Fest 2017, yang diselenggarakan di Melbourne. Sejumlah pengunjung pun mengaku menikmati acara tersebut, karena bisa mencicipi panganan tersebut.
Beach Fest adalah bagian dari upaya mempromosikan budaya Indonesia, Wonderful Indonesia, di kota Melbourne.
Untuk pertama kalinya acara digelar di kawasan pantai St Kilda, selama dua hari pada 21 hingga 22 Januari 2017.
"Laporan staff mengonfirmasi jumlah pengunjung Beach Fest 2017 di hari Sabtu dari lima pintu masuk ada 20 orang per menit, jadi sekitar 12.000," ujar Nita Lanasier, Event Director Wonderful Indonesia dikutip dari Australia Plus, Rabu (25/1/2017).
"Untuk hari Minggu, angkanya bisa lebih besar lagi, tapi dalam dua hari penyelenggaraan jumlah pengunjung ada lebih dari 20.000 orang".
"Ke depannya konsep seperti ini bisa lebih dikembangkan lagi dan makanan Indonesia harus lebih banyak ditonjolkan," jelas Nita.
"Makanan Indonesia belum cukup dikenal di Australia, seperti makanan Thailand, Vietnam, apalagi Jepang. Banyak yang mengatakan mereka belum pernah mencoba sebelumnya, tapi ternyata suka."
Namun, mereka yang hendak membuka stand makanan atau berjualan harus membayar sewa, dengan kisaran harga yang tergantung dari produknya. Nita mengatakan biaya sewa berkisar hingga $300 - $1800, sekitar Rp 3-18 juta.
Ani Lutfian, salah satu warga Indonesia dari Brisbane sampai rela ke Melbourne untuk bisa mengisi acara ini.
"Kami menyetir dari Brisbane, 10 jam ke Sydney, lanjut 10 jam lagi ke Melbourne," kata Ani yang mengandalkan produk baksonya yang ternyata laris manis diserbu.
"Syukur hingga pukul lima sore kami sudah menjual hingga lebih dari 600 mangkok," jelasnya. Ani yang menjual satu porsi bakso sekitar $10, sekitar Rp 100 ribu.
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Monday, 23 January 2017

Harga Minyak Mentah Turun Terpicu Peningkatan Kilang Produksi AS | Best Profit

Best Profit (24/1) - Harga minyak mentah retreat pada akhir perdagangan Selasa dinihari (24/01) tertekan meningkatnya jumlah kilang untuk produksi minyak mentah AS mengatasi upaya pengurangan produksi yang dilakukan produsen OPEC dan non-OPEC.
Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) berakhir turun 47 sen atau 0,9 persen menjadi $ 52,75 per barel.
Harga minyak mentah berjangka patokan global Brent turun 24 sen menjadi $ 55,25 per barel pada 02:33 ET (1933 GMT).
Menteri yang mewakili anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC mengatakan pada pertemuan pada hari Minggu bahwa mereka telah mengurangi 1,5 juta barel per hari dari pasar. Para produsen telah sepakat untuk mengurangi pasokan hampir 1,8 juta barel per hari pada semester pertama tahun ini.
Sementara itu, pengebor AS menambahkan jumlah kilang paling banyak dalam hampir empat tahun pekan lalu, demikian data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes menunjukkan pada Jumat, memperpanjang pemulihan pengeboran dalam delapan bulan.
Penurunan harga berkurang setelah Menteri Perminyakan Irak mengatakan terlalu dini untuk mengatakan apakah kesepakatan yang dibutuhkan untuk diperpanjang dan bahwa ia memperkirakan harga minyak naik ke $ 60- $ 65 per barel.
Produksi minyak AS telah meningkat lebih dari 6 persen sejak pertengahan 2016, meskipun masih 7 persen di bawah tinggi bersejarah di tahun 2015. Hal ini kembali ke tingkat akhir 2014, ketika produksi minyak mentah AS yang kuat berkontribusi pada tertekannya harga minyak.
Namun ada berita bullish dari Libya, di mana kesalahan listrik di lapangan minyak Sarir telah mengakibatkan pemotongan 60.000 barel per hari produksi, kepala National Oil Corp mengatakan di London.
Spekulan pasar minyak menambahkan ke taruhan bullish pekan lalu, namun, menunjukkan mereka lebih optimis tentang harga yang lebih tinggi. Mereka mengangkat posisi panjang pada minyak mentah berjangka Brent oleh 13.931 kontrak, data mingguan yang disediakan oleh Intercontinental Efek menunjukkan pada hari Senin.
Sementara itu, negara Equatorial Guinea, melakukan penandatangan kesepakatan pemotongan produksi, mengatakan pada hari Senin itu telah membuat perjanjian untuk bergabung dengan OPEC sebagai anggota ke-14-nya.
Sumber : Vibiznews

Sunday, 22 January 2017

Harga Emas Akhir Pekan Naik Setelah Pelantikan Trump; Mingguan Masih Positif | PT Bestprofit

PT Bestprofit (23/1) - Harga Emas naik lebih tinggi pada akhir perdagangan akhir pekan Sabtu dinihari (21/01) setelah Presiden AS terpilih Donald Trump dilantik.
Pernyataan pertama Trump sebagai presiden ke-45 Amerika Serikat terfokus pada pesan nasionalis “American first”.
Harga emas spot naik 0,64 persen pada $ 1,212.47 per ons pada 02:58 EST, sementara harga emas berjangka AS naik 0,95 persen pada $ 1,212.9.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang, turun 0,1 persen menjadi 101,09. Dolar melemah, yang membuat logam lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya.
Presiden Federal Reserve Philadephia Patrick Harker, Jumat mengatakan ia berharap tiga suku bunga meningkat pada tahun 2017 jika pasar tenaga kerja membaik lebih lanjut dan pergerakan inflasi ke tujuan 2 persen Federal Reserve.
Logam telah meningkat lebih dari 7 persen sejak jatuh ke terendah dalam lebih dari 10,5 bulan di bulan Desember, meskipun telah gagal menembus di atas level kunci dalam beberapa hari terakhir.
Dalam logam mulia lainnya, perak spot naik 0,87 persen pada $ 17,15 per ons.
Platinum spot naik 2,78 persen menjadi $ 983 setelah menyentuh rendah $ 943,75 di sesi sebelumnya, terburuk sejak 5 Januari
Penurunan kendaraan diesel di Eropa merupakan ancaman bagi harga platinium, menurut pendapat analis.
Spot paladium naik 4,28 persen menjadi $ 785,72.
Secara mingguan harga emas masih positif sekitar 0,5 persen, terpicu kekuatiran Hard Brexit dan komentar Trump yang menyatakan dollar AS yang terlalu kuat dapat menekan daya saing AS khususnya terhadap Tiongkok.
Sumber : Vibiznews

Thursday, 19 January 2017

BI Tahan Suku Bunga, IHSG Bakal Bergerak Positif | Bestprofit

Bestprofit (20/1) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi menguat pada perdagangan saham tutup pekan ini. IHSG diperkirakan akan bergerak pada support 5.270 dan resistance 5.350.
Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi memperkirakan, IHSG ditutup menguat 4,1 poin ke level 5.298,95 pada perdagang saham kemarin. "Keputusan suku bunga tidak berubah di Indonesia di level 4,75 persen membuat investor asing cukup tertarik hingga melakukan aksi beli bersih sebesar Rp 181.65 miliar," kata dia di Jakarta, Jumat (20/1/2017).
Sementara, mayoritas Bursa Asia sendiri ditutup variatif di mana Bursa Saham Jepang naik hampir 1 persen. Sedangkan Bursa Saham China ditutup melemah. "Penguatan ekuitas Jepang didukung oleh pelemahan yen yang terus memperpanjang tren bearish sedangkan pelemahan ekuitas di Tiongkok lebih disebabkan penurunan perusahaan-perusahan enegi dan tambang," kata dia.
Lanjar memperkirakan IHSG bergerak pada support 5.270 dan resistance 5.350. Ia merekomendasikan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT PP Tbk (PTPP).
PT Sinarmas Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak variatif. IHSG diproyeksi pada level support 5.265 dan resistance 5.320. Saham rekomendasi Sinarmas Sekuritas antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Sumarecon Agung Tbk (SMRA), PT Waskita Karya Tbk (WSKT).
Untuk diketahui pada penutupan perdagangan saham Kamis (19/1/2017), IHSG naik tipis 4,1 poin atau 0,08 persen ke level 5.298,94. Indeks saham LQ45 naik 0,14 persen ke level 886,47. Seluruh indeks saham acuan kompak menghijau.
Ada sebanyak 150 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. Sedangkan 131 saham melemah. 126 saham lainnya diam di tempat. Transaksi perdagangan saham juga cukup ramai.
Total frekuensi perdagangan saham sekitar 303.133 kali dengan volume perdagangan 11,3 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 5,6 triliun. Investor asing pun melakukan aksi beli cukup besar pada Kamis pekan ini. Aksi beli tercatat Rp 124 miliar di pasar reguler. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 13.369.
IHSG pun sempat berada di level tertinggi 5.309,95 dan terendah 5.288,57. Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat dengan dipimpin sektor saham perdagangan. (Amd/Gdn)
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Wednesday, 18 January 2017

Harga Emas Melemah Setelah Inflasi AS Mendorong Kenaikan Dollar AS | Best Profit

Best Profit (19/1) - Harga Emas melemah pada akhir perdagangan Kamis dinihari (19/01) dari kenaikan tertitnggi delapan minggu sebelumnya karena meningkatnya harga konsumen ke tertinggi 2,5 tahun mengangkatkan dolar AS dan imbal hasil Treasury AS.
Namun pergerakan itu diredam sebagai pasar menunggu pidato Ketua Federal Reserve Janet Yellen, yang akan diawasi ketat untuk petunjuk pada kebijakan moneter AS.
Harga emas spot turun 0,45 persen pada $ 1,211.00 per ons, sementara harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari berada 0,2 persen lebih rendah pada $ 1,210.5
Emas mencapai tertinggi sejak pertengahan November, Selasa, setelah jatuh di bangun atas kemenangan pemilu AS Donald Trump bulan itu sebagai janjinya untuk memotong pajak dan meningkatkan pengeluaran memicu reli dalam hasil Treasury dan membeli aset siklis.
Departemen Tenaga Kerja mengatakan pada hari Rabu Indeks Harga Konsumen naik 0,3 persen bulan lalu dan 2,1 persen dalam 12 bulan sampai Desember, kenaikan terbesar tahun ke tahun sejak Juni 2014.
Namun Ketidakpastian kebijakan Trump menjelang pelantikan, Jumat menjaga dukungan logam mulia ini. Best Profit
Laporan proteksionis dan kurangnya detail kebijakan telah menyebabkan beberapa investor untuk memilih emas, sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian di pasar yang lebih luas, karena bergeser pasca-pemilihan umum.
Perak naik 0,5 persen menjadi $ 17,24 per ons, sementara platinum adalah 1,17 persen lebih rendah pada $ 971,60 per ons dan paladium turun 0,04 persen pada $ 747,20.
Sumber : Vibiznews

Tuesday, 17 January 2017

Komentar Menteri Energi Arab Dorong Kenaikan Harga Minyak | PT Bestprofit

PT Bestprofit (18/1) - Harga minyak bergerak menguat pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Pendorong utama kenaikan harga minyak adalah komentar dari Menteri Energi Arab Saudi dan penurunan tajam pada nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Wall Street Journal, Rabu (18/1/2017), harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Februari naik 11 sen atau 0,2 persen ke level US$ 52,48 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan harga minyak mentah Brent, yang merupakan patokan harga dunia, turun 39 sen atau 0,7 persen ke angka US$ 55,47 per barel di ICE Futures Europe.
Harga minyak naik setelah Menteri energi Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan bahwa saat ini adalah waktu dimana harga minyak akan mencari keseimbangan baru setelah terjadi kesepakatan yang dijalankan oleh negara yang tergabung dalam organisasi pengekspor minyak (OPEC) dan 11 negara non-OPEC.
Selain itu, kejatuhan nilai tukar dolar AS juga menjadi pendorong kenaikan harga minyak. Pelemahan dolar AS membuat harga minyak lebih murah bagi pelaku pasar yang bertransaksi menggunakan mata uang di luar Dolar AS. Murahnya harga minyak tersebut mendorong aksi beli sehingga membuat harga minyak naik.
"Semua memasang harga di atas," kata broker minyak Herbert J. Sims & Co, Donald Morton. Ia melanjutkan, tidak ada alasan untuk menurunkan harga minyak saat ini.
Beberapa negara produsen terbesar minyak sudah merealisasikan perjanjian pemotongan produksi. Arab Saudi sebagai pemimpin OPEC secara de fakto juga telah merealisasikan pemotongan produksi.
Penurunan harga minyak yang cukup dalam membuat pemerintah Arab Saudi setuju untuk melakukan pemotongan produksi dalam kesepakatan November lalu.
"Produksen-produsen minyak ingin menghindari anjloknya harga ke level yang lebih dalam lagi," jelas Kepala Ekonom First Standard Financial, New York, AS, Peter Cardillo. (Gdn/Ndw)
Sumber : Liputan6

Monday, 16 January 2017

Komitmen Arab Saudi Angkat Harga Minyak | Bestprofit

Bestprofit (17/1) - Harga minyak mentah dunia naik seiring komitmen Arab Saudi untuk mengurangi produksi mengimbangi laporan ramalan jika produksi minyak AS akan naik lagi pada tahun ini.
Melansir laman Reuters, Selasa (17/1/2017), harga minyak mentah Brent naik 41 sen atau 0,7 persen ke posisi US$ 55,86 per barel. Sementara minyak patokan AS West Texas Intermediate naik 27 sen, atau 0,5 persen menjadi US$ 52,64 per barel.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah sepakat untuk memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) menjadi 32,5 juta barel per hari mulai 1 Januari.
Langkah ini dalam upaya untuk membersihkan kelebihan pasokan global yang telah menekan harga selama lebih dari dua tahun.
Rusia dan eksportir utama minyak lainnya di luar OPEC mengatakan jika mereka juga akan memangkas produksi.
Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih memastikan jika negaranya akan mematuhi terhadap komitmen pengurangan output minyak. Ini sekaligus ungkapan keyakinan jika rencana OPEC untuk menopang harga akan terwujud.
Namun, kata-kata Falih ini tidak sepenuhnya positif. Di satu sisi soal komitmen, ia juga mengatakan produsen tidak mungkin untuk memperpanjang perjanjian mereka memangkas produksi minyak usai enam bulan, terutama jika persediaan global jatuh ke rata-rata dalam lima tahun.
"Harapan saya... bahwa rebalancing yang mulai perlahan-lahan pada tahun 2016 akan memiliki dampak penuh pada semester pertama," dia menjelaskan.
Memanng investor meragukan bahwa OPEC dan sekutunya dapat memangkas output yang cukup untuk mendongkrak harga.
Di sisi lain, prediksi kenaikan produksi minyak di Amerika Serikat serta libur federal membuat keuntungan harga.
Goldman Sachs mengharapkan produksi minyak AS naik 235.000 barel per hari pada 2017 (year on year).
Ini seiring kenaikan pengeboran di negara itu. Produksi minyak AS saat ini berada di posisi 8.950.000 barel per hari, naik dari 8,5 juta barel per hari pada bulan Juni tahun lalu.(Nrm/Ndw)
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Sunday, 15 January 2017

NASA Tepis Anggapan Bumi Datar Lewat Foto Terbaru | Best Profit

Best Profit (16/1) - NASA merilis foto antariksa terbaru yang memperlihatkan komposit pemandangan Bumi dan bulan. Foto tersebut, diklaim NASA sebagai foto terbaik antara Bumi dengan satelit alamnya, karena diabadikan dalam bingkai yang sama.
Foto ini, sebagaimana dilansir Space, Senin (16/1/2017), diambil lewat spacecraft yang bernama Mars Reconnaissance Orbit (MRO) dari Mars. Diungkap NASA, MRO mengambilnya dengan kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) pada 20 November 2016 lalu.
Dari foto yang tampak, jarak Mars dan Bumi berkisar di angka 205 ribu kilometer. Seperti yang terlihat di dalam foto, tampak wujud Bumi di kanan atas dengan bentuk bulat dan di bagian kiri bawah ada bulan yang ukurannya lebih kecil dari Bumi.
Dari foto ini saja, sudah terbukti bahwa Bumi itu bulat, mengingat akhir-akhir ini ada sebuah teori yang mengatakan bahwa Bumi itu datar. Padahal, merujuk pada foto yang merupakan bukti sains otentik NASA, Bumi yang kita huni ini jelas-jelas berbentuk bulat.
Menariknya, foto itu sebetulnya merupakan gabungan dari dua foto objek yang terpisah. “Foto ini sebetulnya memiliki dua objek yang digabungkan dalam satu bingkai, namun ukurannya relatif sama,” tulis NASA dalam keterangan resminya.
Jika dilihat lebih dekat, objek Bumi yang muncul di sudut kanan atas foto memperlihatkan rincian ukuran benua, salah satunya tampak benua Australia.
Sekadar informasi, MRO adalah spacecraft NASA yang meluncur pada 2005 dan mencapai orbit Planet Mars di 2006. Dalam satu dekade terakhir, MRO bertugas untuk meneliti geologi, lingkungan dan iklim Planet Merah demi mencari apakah ada ‘kehidupan’ seperti aktivitas air di permukaan Mars.
MRO ditugaskan untuk memberikan hubungan komunikasi antara Curiosity—robot yang ada di permukaan Mars—dengan tim pengendali yang ada di Bumi.
Spacecraft ini juga berfungsi untuk membantu peneliti mencari tahu apakah ada wilayah yang dianggap potensial untuk nantinya bisa menjadi lokasi pendaratan robot dan manusia di masa depan.
(Jek/Ysl)
Sumber : Liputan6

Thursday, 12 January 2017

Harga Minyak Mentah Naik Lebih dari 1 Persen | PT Bestprofit

PT Bestprofit (13/1) - Harga minyak naik lebih dari 1 persen menyusul berita bahwa eksportir kunci dari minyak mentah, termasuk Arab Saudi, tengah memangkas produksi untuk mengurangi kelebihan pasokan dunia.
Kenaikan harga juga ditopang oleh perkiraan naiknya permintaan dari China.
Harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate naik 76 sen ke lvel US$ 53,01. Kenaikan setara dengan 1,5 persen.
Dilansir dari Reuters, Jumat (13/1/2017) harga minyak mentah acuan dunia, Brent juga naik 91 persen ke level US$ 56,01 atau 17 persen. Sesi tertinggi adalah US$ 56,43.
Harga minyak bergerak naik turun pada sebulan setengah ini, di mana konsumen didorong oleh kabar pemangkasan produksi oleh produsen utama di dunia, tapi khawatir akan kecenderungan negara-negara ini memproduksi lebih dari yang disepakati.
Sebelumnya diketahui, OPEC sepakat untuk memangkas produksi dalam sebuah rapat yang dilakukan pada November. Kala itu disepakati pemangkasan produksi dilakukan di awal tahun ini untuk mengurangi kelebihan pasokan yang sebelumnya menjatuhkan harga.
"Pasar sedang dalam pola konsolidasi, dan saat kita dapat lebih banyak tanda dari produsen yang memangkas produksi, kita akan bisa mencapai US$ 55 per barel," tutur Gene McGillian dilansir dari Reuters, Jumat (13/1/2017).
"Pasar mencoba mendorong lebih tinggi lagi dan memantau apa produsen ini akan berbuat curang," imbuhnya.
Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al Fatih mengatakan, bahawa Arab sudah memangkas produksi ke level terendah dalam hampir dua tahun terakhir.
Sumber : Liputan6

Wednesday, 11 January 2017

Sektor Energi Topang Penguatan Wall Street | Bestprofit

BESTPROFIT (12/1) - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat usai pergerakan yang volatile imbas dari pernyataan presiden AS Donald Trump soal harga obat.
Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones naik 96,32 poin atau 0,49 persen ke level 19.951. Indeks saham S&P 500 menguat 6,29 poin atau 0,28 persen ke level 2.275. Indeks saham Nasdaq mendaki 11,83 poin atau 0,21 persen ke level 5.563. Indeks saham mengukur kecemasan investor atau VIX naik 6,4 persen.
Pernyataan presiden Donald Trump sempat membuat indeks saham Nasdaq tertekan. Investor cenderung melepas saham obat usai Donald Trump menyebutkan perusahaan farmasi telah menetapkan harga obat mahal. Hal ini juga mendorong ia berencana untuk impor obat murah.Donald Trump menyampaikan hal itu pada konferensi pers pertama sejak pemilu 8 November 2016.
Indeks sektor saham kesehatan S&P 500 turun 1,9 persen. Tekanan terhadap indeks saham itu terburuk sejak 22 November. Kemudian indeks saham bioteknologi Nasdaq juga merosot 3,1 persen.
"Ketika seseorang berkuasa mengatakan sesuatu negatif, membuat orang tak ingin investasi di dalamnya sehingga melihat sektor itu tak menjadi menarik untuk investasi. Hal itu membuat mereka menarik uangnya," jelas Brad Loncar, Manajer Loncar Cancer Immunotherapy, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (12/1/2017).
Saham-saham yang tertekan antara lain Lockheed Martin turun 0,55 persen usai Donald Trump sebuat program jet tempur F-35 merupakan program yang memiliki anggaran sangat besar dan belum sesuai jadwal.
"Trump sulit untuk bisnis yang mengambil keuntungan dari AS antara lain kesehatan, otomotif, eksportir dan farmasi. Pelaku pasar pun tampaknya harus terbiasa dengan berita utama di gedung putih," ujar Analis Performance Trust Analytics Brian Battle.
Lima dari 11 sektor saham di indeks saham S&P cenderung tertekan. Akan tetapi, kenaikan sektor saham energi membatasi penurunan indeks saham acuan di wall street.
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Tuesday, 10 January 2017

Harga Emas Rally Tertinggi 1 Bulan Terpicu Pelemahan Dollar AS dan Penantian Pidato Trump | Best Profit

BEST PROFIT (11/1) - Harga Emas rally ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan pada akhir perdagangan Rabu dinihari (11/01) karena dolar AS merosot pada kecemasan sebelum konferensi pers oleh Presiden AS terpilih Donald Trump pada Rabu dan pada ketidakpastian keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Harga emas spot LLG naik 0,44 persen menjadi $ 1,186.36 per ons, sebelumnya sempat mencapai tertinggi sejak 15 Desember
Harga emas berjangka AS naik 0,16 persen pada $ 1,186.7 per ons.
Pasar sedang mencari petunjuk lebih lanjut tentang rencana pengeluaran Trump dalam pidato pertama sejak kemenangan mengejutkan pada bulan November, mendorong dolar lebih rendah.
Pound dan saham juga meluncur di tengah kekhawatiran dari “hard” Brexit setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May pada akhir pekan menyatakan dia tidak tertarik untuk Inggris mempertahankan keanggotaan Uni Eropa.
Emas, sering dianggap sebagai alternatif investasi selama masa ketidakpastian geopolitik dan keuangan, manfaat dari sentimen keenganan mengambil risiko di pasar.
Permintaan fisik yang kuat dari tahun baru Tiongkok juga mendukung harga.
Kepemilikan SPDR Gold Trust, emas terbesar di dunia yang didukung exchange-traded fund, turun 1,06 persen menjadi 805,00 ton pada hari Senin. Kepemilikan telah turun sekitar 15 persen sejak pemilihan presiden November AS.
Perak naik 0,91 persen pada $ 16,835 per ons dan platinum adalah 0,19 persen lebih rendah pada $ 980,70. Platinum naik ke tertinggi dua bulan dari $ 981,90 per ons di sesi terakhir.
Palladium naik untuk sesi keenam, naik 0,66 persen pada $ 763,60 per ons setelah naik ke level tertinggi dalam lebih dari sebulan pada hari Senin.
Sumber : Liputan6

Monday, 9 January 2017

Harga Minyak Susut di Tengah Kekhawatiran Soal Pasokan | PT BESTPROFIT

PT Bestprofit (10/1) - Harga minyak jatuh di tengah kekhawatiran jika ekspor minyak mentah Irak dan output AS bisa merusak upaya OPEC untuk mengurangi pasokan di pasar.
Melansir laman Reuters, Selasa (10/1/2017), pada akhir perdagangan, harga minyak mentah Brent turun US$ 2,25 atau 2,87 persen menjadi US$ 54,85 ​​per barel.
Sementara minyak mentah berjangka AS turun hampir 4 persen menjadi US$ 51,87 per barel.
Penurunan harga minyak ikut menekan saham energi di Wall Street dan Dow Jones Industrial Average."Harga (minyak) melemah... meminta perhatian beberapa berita bearish bahwa pasar telah bersedia untuk mengabaikan, seperti tingginya tingkat pasokan (kuartal keempat) dan uptrend di pengeboran rig AS dan produksi minyak yang sebenarnya, "kata Tim Evans, Ahli Energi Berjangka di Citigroup.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) setuju untuk memangkas produksi untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan global melanda lebih dari delapan tahun yang lalu pada November lalu.
Di sisi lain, Pound sterling merosot terpicu komentar Perdana Menteri Inggris Theresa May tentang jalan keluar yang agresif dari Uni Eropa.
Sterling yang merupakan penggerak besar di pasar mata uang, jatuh hampir 1 persen terhadap dolar ke posisi terendah lebih dari dua bulan setelah pernyataan May.
May mengatakan dia bersedia mengorbankan keanggotaan pada pasar tunggal untuk bisa mengontrol lebih besar di perbatasan.
Imbal hasil Treasury AS ikut naik sejalan dengan imbal hasil obligasi Inggris usai komentar May tersebut.
Analis mengatakan, pelemahan dolar menekan imbal hasil Treasury. Indeks Dolar yang melacak greenback terhadap enam mata uang, turun 0,23 persen menjadi 101,98.
Sementara sterling merosot ke posisi terendah lebih dari dua bulan. Sterling terakhir turun 0,9 persen menjadi US$ 1,2163.
Sumber : Liputan6

Sunday, 8 January 2017

Menanti Cadangan Devisa, IHSG Bakal Menguat Terbatas | Bestprofit

BESTPROFIT (9/1) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak menguat terbatas pada perdagangan saham sepekan. Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi mengatakan, IHSG akan bergerak pada support 5.200 dan resistance 5.400.
Dia menerangkan, pada perdagangan saham pekan ini, data cadangan devisa dalam negeri akan menjadi sentimen penggerak pasar. Bukan hanya itu, pelaku pasar juga mencermati data penjualan kendaraan dan ritel.
"Sentimen dalam negeri yang mungkin akan menjadi pusat perhatian investor di antaranya data pertumbuhan penjualan mobil dan cadangan devisa serta pertumbuhan penjualan eceran di mana masing-masing diperkirakan sedikit tertekan," kata dia di Jakarta, Senin (9/1/2017).
Dari global, Lanjar mengatakan pelaku pasar akan mencermati data neraca perdagangan."Pada minggu kedua di tahun 2017 investor akan kembali dikhawatirkan oleh beberapa data neraca perdagangan dan komposisi ekspor impor di beberapa negara dunia yang dapat menjadi katalis pergerakan pasar," jelas dia.
Beberapa saham rekomendasi Lanjar antara lain, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Timah Tbk (TINS).
Sebagai informasi, IHSG menguat sebanyak 0,95 persen pada minggu lalu di mana ditutup pada level 5.347,02. Sejalan dengan itu, kapitalisasi pasar menguat dari sebelumnya Rp 5.753,61 triliun menjadi Rp 5.808 triliun.
Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Yulianto Aji Sadono mengatakan, rata-rata frekuensi pekan lalu naik 12,41 persen menjadi 251,09 ribu kali. Namun, rata-rata volume transaksi saham turun 51,91 persen dari 16,72 miliar menjadi 8,04 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian turun 33,66 persen dari Rp 7,93 triliun menjadi Rp 5,26 triliun.
"Investor asing mencatatkan jual bersih di sepanjang pekan ini (kemarin) dengan nilai Rp 361,9 miliar," tandas dia.
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Thursday, 5 January 2017

Wall Street Bergerak di 2 Arah, Nasdaq Dekati Rekor Tertinggi | Best Profit

BEST PROFIT (6/1) - Wall Street bergerak di dua arah pada penutupan perdagangan Kamis (Rabu pagi waktu Jakarta). Indeks Nasdaq menguat dan dekati rekor tertinggi yang pernah dicapai. Sebaliknya, Indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average (DJIA) justru terpeleset.
Mengutip Reuters, Jumat (6/1/2017), Nasdaq Composite naik 0,2 persen dan berakhir di level 5.587,94. Level tersebut hanya kurang 1 poin dari rekor tertinggi yang pernah dicetak pada 27 Desember lalu.
Sedangkan DJIA kehilangan 0,21 persen dan berakhir pada level 19.899,29. Tak berbeda jauh, untuk S&P 500 juga melemah 0,08 persen menjadi 2.269.
Pendorong penguatan indeks Nasdaq adalah adalah saham dari Amazon.com. Sementara, saham yang membebani indeks acuan tersebut adalah saham-saham dari perusahaan department store seperti Macy dan Kohl.
Sejak Donald Trump resmi memenangkan pemilu Amerika Serikat (AS), Wall Street terus bergerak menguat. Penguatan ini karena banyak pelaku pasar memberikan tanggapan positif kepada janji-janji kampanye Trump.
Selama masa kampanye memang Trump menjanjikan banyak rangsangan bagi pertumbuhan ekonomi dengan pemotongan pajak dan belanja infrastruktur.
Namun penguatan di Wall Street tertakan dalam beberapa hari terakhir. Alasannya, pelaku pasar kembali melihat fundamental dari perusahaan dan juga lebih memilih untuk menunggu janji-janji kampanye Trump direalisasikan.
"Pasar tertekan karena satu alasan. Menunggu konfirmasi dari Washington dan agenda Trump," jelas managing director for investments U.S. Bank, Florida, AS, Jeff Zipper.
Lebih lanjut, beberapa saham department store mengalami tekanan karena hasil dari penjualan pada musim liburan ternyata tidak sesuai denga prediksi awal.
Saham Macy turun 13,89 persen sementara saham Kohl merosot 19,02. Sebaliknya, saham Amazon.com justru menguat 3,07 persen. (Gdn/Ndw)
Sumber : Liputan6

Wednesday, 4 January 2017

Wall Street Menguat, Dow Jones Hampir Sentuh 20.000 | PT Bestprofit

PT BESTPROFIT (5/1) – Bursa saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup menguat pada Rabu. Akibat ini, Dow Jones hampir menyentuh level 20.000.
Penguatan terjadi bahkan setelah catatan dari pertemuan Desember The Fed menunjukkan perhatian bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat di bawah kepemimpinan Donald Trump butuh kenaikan suku bunga yang lebih cepat juga.
Saham AS terbebani dalam 2 bulan pada harapa bahwa Trump akan menstimulasi ekonomi dengan pemangkasan pajak dan belanja infrastruktur, juga memangkas regulasi di industri keuangan.
Namun, investor juga khawatir bahwa langkah Trump ini juga bisa memicu inflasi dan mendorong The Fed untuj menaikkan suku bunganya lebih agresif.
“Jelas, beberapa anggota komite melihat perubahan fiskal, baik itu pemangkasan pajak atau belanja pemerintah,” ujar Chris Zaccarelli, Kepala Investasi di COrnertone Financial Partners dilansir dari reuters, Kamis (5/1/2017).
2 pekan lagi Donald Trump akan mulai berkantor di Gedung Putih, Dow Jones Industrial Average mencatatkan rekor 20.000. Investor mengatakan bahwa mereka harus mencari bukti bahwa janji-janji Trump saat kampanye bisa diterima oleh dewan dari partai republik.
Dow Jones Industrial Average naik 0,3 persen untuk menetap di level 19.942,16 poin, sementar S&P 500 menambahkan 0,57 persen ke level 2.270,75. Kemudian Nasdaq Composite naik 0.88 persen ke level 5.477,01.
Sekitar 7 miliar saham diperdagangkan kemarin, lebih dari rata-rata harian sebessar 6,8 miliar dalam 20 sesi terakhir.
Sumber : Liputan6

Tuesday, 3 January 2017

Dolar AS Picu Harga Minyak Merosot | Bestprofit

BESTPROFIT (4/1) - Harga minyak dunia turun lebih dari dua persen pada hari pertama perdagangan 2017. Harga minyak tersebut merosot dari level tertinggi dalam 18 bulan seiring dolar Amerika Serikat (AS) menguat dan pelaku pasar realisasikan keuntungan.
Harga minyak Brent turun US$ 1,35 atau 2,4 persen ke level US$ 55,47 per barel. Sedangkan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 1,39 atau 2,6 persen menjadi US$ 52,33 per barel.
Sebelum harga minyak turun, harga minyak sempat sentuh level tertinggi sejak Juli 2015 dengan harapan kesepakatan negara OPEC dan negara eksportir minyak lainnya memangkas produksi. Harga minyak Brent sempat ke level tertinggi US$ 58,37 dan WTI di kisaran US$ 55,24.
Volatilitas harga minyak pun cukup tinggi pada awal perdagangan."Ini gerak harga minyak yang bergejolak signifikan dalam satu hari. Penguatan dolar AS juga berkontribusi dengan penurunan harga minyak. Ditambah aksi ambil untung," ujar James Williams, Presiden Direktur WTRG Economics, seperti dikutip dari laman Reuters, Rabu (4/1/2017).
Dolar AS sentuh level tertinggi dalam 14 tahun terhadap sejumlah mata uang usai data ekonomi AS menunjukkan data aktivitas manufaktur tumbuh lebih dari yang diharapkan pada November. Penguatan dolar AS membuat harga minyak lebih mahal untuk pengguna mata uang lainnya.
"WTI telah memulai perdagangan dengan dukungan laporan Kuwait dan Oman. Setuju pemangkas produksi 175 ribu barel per hari," ujar Jim Ritterbusch, Direktur Utama Ritterbusch and Associates.
Selain itu, OPEC dan negara eksportir utama minyak lainnya secara resmi mulai memberlakukan pemangkasan produksi minyak. Rusia akan pangkas produksi 1,8 juta minyak barel per hari. Oman memangkas produksi minyak sekitar lima persen.
Sumber : Liputan6

Lihat Bestprofit

Monday, 2 January 2017

Harga Minyak Diprediksi Tak Akan Melompat Tinggi di 2017 | Best Profit

BEST PROFIT (03/01) - Laju spektakuler harga minyak mentah dunia pada 2016 dinilai tak akan kembali terjadi di tahun ini. Analis menilai, berbagai masalah terkait pasokan minyak masih akan berlanjut di tahun baru ini.
Harga minyak mentah mencapai kondisi terbaiknya sejak 2009, dengan melonjak hampir 45 persen. Bahkan energi menjadi sektor berkinerja terbaik di 2016.
Kabar baik ini membuat investor dan perusahaan minyak berharap akan ada laju harga lebih besar pada 2017. Ini terutama mengingat OPEC dan negara non-OPEC telah bersepakat untuk memotong produksi minyak, sebagai upaya untuk memecahkan kelebihan pasokan global.
Memang hasil pertemuan OPEC pada akhir November menyebabkan minyak untuk melompat lebih dari 12 persen hanya dalam satu minggu. Bahkan, berita soal OPEC mendorong harga komoditas ini naik ke posisi tertinggi baru pada Desember.
Namun menurut Tom Kloza, Kepala Analisis Energi Global Oil Price Information Service menilai, kesepakatan yang membawa begitu banyak sukacita juga bisa menjadi dampak buruk bagi harga minyak.
"Saya pikir kita akan melihat [permintaan melebihi pasokan] pada tahun 2017, tapi saya pikir itu akan menjadi front-end load," kata Kloza kepada CNBC, Selasa (3/1/2016).
Kloza percaya bahwa minyak bisa kembali ke posisi tertingginya US$ 62,83, seperti pada Mei 2015. Namun dia ragu harga minyak akan mencapai lebih dari itu.
Ini berarti bahwa minyak masih bisa melonjak hingga 23 persen atau lebih. Namun ini sekaligus menjadi batas tertingginya pada tahun 2017.
"Kita akan melihat beberapa kepatuhan dengan kesepakatan kuota antara OPEC dan non-OPEC, tetapi ini akan memudar di kuartal kedua dan mungkin tidak ada sama sekali dalam paruh kedua 2017," tambahnya.
Dengan kata lain, skenario terburuknya bahwa negara anggota OPEC dan non-OPEC bisa memutuskan kesepakatan tersebut.
Namun Kloza juga berpendapat bahwa faktor domestik bisa memperburuk kondisi membanjirnya pasokan minyak.
"Seperti yang Anda lihat harga naik di atas US$ 55 per barel di pasar negara maju, Anda akan melihat kondisi di West Texas, North Dakota dan bahkan Oklahoma dengan yang disebut shale," kata Kloza, mengacu pada booming produksi energi di AS.
"Itu akan menjadi penentu besar, atau faktor, yang membuat harga minyak di teluk," tambah analis ini.(Nrm/Ndw)
Sumber : liputan6