PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Registrasi dilakukan dengan cara yang cepat, aman dan mudah

Wednesday, 25 May 2016

Wall Street Menguat Terimbas Kenaikan Harga Minyak

BESTPROFIT FUTURES MALANG (26/5) - Wall Street menguat pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta) terdorong kenaikan harga minyak dan investor yang mulai menerima kemungkinan kenaikan suku bunga acuan AS bakal terjadi pada awal bulan depan.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones industrial average naik 0,82 persen menjadi 17.851,51 poin. Indeks S&P 500 naik 0,7 persen menjadi 2.090,54 poin. Sementara indeks Nasdaq Composite bertambah 0,7 persen menjadi 4,894.89.

Indeks S&P 500 telah meningkat sekitar 15 persen dari posisi terendah pada Februari dan naik sekitar 2 persen pada tahun ini. Dengan sembilan dari 10 sektor besar pada indeks S&P menguat.

Saham sektor energi memimpin perdagangan, dengan naik 1,51 persen karena harga minyak menguat ke posisi  US$ 50 per barel. Itu menyusul laporan jika persediaan minyak mentah AS turun lebih besar dari perkiraan, yang menambah harapan bahwa aksi jual komoditas mungkin lebih banyak terjadi.

Selain itu, komentar dari pembuat kebijakan dalam beberapa hari terakhir dan data ekonomi AS yang baik telah meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve bisa segera menaikkan tingkat suku bunga acuannya lebih cepat daripada yang perkiraan sebelumnya.

Sektor keuangan pada indeks S&P naik 1,03 persen dan mengakhiri sesi pada titik tertinggi tahun ini. Mendapatkan keuntungan dari kenaikan suku bunga yang lebih tinggi membuat perusahaan sektor keuangan menjanjikan keuntungan lebih. Saham Bank of America, JPMorgan dan Citigroup naik lebih dari 1,5 persen.

"Apa yang Anda lihat adalah pengakuan bahwa ini akan terjadi dan investor semakin nyaman dengan itu. Ada pengakuan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak apa-apa," ujar Kurt Brunner, Manajer Portofolio Swarthmore Group di Philadelphia.

Sementara perusahaan yang mengalami hari buruk seperti saham Alibaba Group yang anjlok 6,82 persen setelah perusahaan diselidiki Securities and Exchange Commission AS, terkait kemungkinan praktik akuntansi yang melanggar hukum federal.

Sekitar 6,9 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di bawah 7,3 miliar rata-rata harian selama 20 hari perdagangan terakhir, menurut data Thomson Reuters. (Nrm/Ndw)


Sumber : Liputan6