PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Registrasi dilakukan dengan cara yang cepat, aman dan mudah

Wednesday, 11 May 2016

Saham Walt Disney Dorong Indeks Dow Turun

BESTPROFIT FUTURES MALANG (12/5) - Bursa Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Rabu (Kamis pagi waktu Jakarta) dengan indeks Dow Jones berada di posisi terburuk sejak Februari. Hal ini dipicu laporan kuartalan Walt Disney, Macy dan Fossil yang merusak kepercayaan di sektor konsumen.

Melansir laman Reuters, indeks Dow merosot 1,21 persen menjadi 17.711,12 poin. Ini penurunan terbesar dalam satu hari sejak 11 Februari. Sementara indeks S&P 500 turun 0,96 persen menjadi 2.064,46. Dan indeks Nasdaq Composite turun 1,02 persen menjadi 4.760,69 poin.

Pelemahan Dow dipicu pendapatan Disney yang turun 4,04 persen. Hal serupa terjadi pada perusahaan department store Macy yang mengalami penurunan 15,17 persen ke level terendah sejak 2011.

Sedangkan pembuat jam tangan Fossil turun hingga 34 persen ke level terendah 2009. Ini setelah kedua perusahaan memangkas perkiraan pendapatan tahunan mereka.

Penurunan juga terjadi di saham ritel, Office Depot yang merosot 40,39 persen dan Staples turun 18,34 persen. Ini dipicu keputusan hakim federal AS yang memerintahkan penghentian kesepakatan sementara keduanya yang berencana melakukan merger.

Pada S&P, 10 besar sektor indeks ini jatuh kecuali utilitas yang naik 0,24 persen.

Penurunan indeks S&P 500 menurunkan keuntungan dari laju sehari sebelumnya didorong penguatan saham Amazon.com. Kemarin, Saham Amazon melonjak 3,43 persen menuju rekor tertinggi yaitu US$ 703,07. Kenaikan saham perusahaan e-commerce ini menjadi pendorong terbesar penguatan indeks saham S&P 500 dan indeks Nasdaq.

"Tidak ada kekuatan harga, tidak ada pertumbuhan pendapatan dan Anda memiliki Amazon yang mendapatkan banyak pesanan," kata Bruce Bittles, Kepala Strategi Investasi Robert W. Baird & Co di Nashville.

Sekitar 7,0 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, tepat di bawah 7,2 miliar rata-rata harian selama 20 hari perdagangan terakhir, menurut data Thomson Reuters.


Sumber : Liputan6