PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Registrasi dilakukan dengan cara yang cepat, aman dan mudah

Tuesday, 29 December 2015

Minyak Naik seiring Kalkulasi Penurunan Stok Minyak Mentah AS



BESTPROFIT FUTURES MALANG (30/12) - Minyak mentah naik seiring para pedagang mengkalkulasi seminggu lagi dari penurunan stok minyak mentah AS yang berimbas pada berkurangnya kelebihan stok di global yang mendorong harga di bawah $ 40 per barel.
Futures naik 2,9 persen di New York, memangkas 3,4 persen penurunan kemarin. Stok minyak mentah AS kemungkinan turun untuk minggu kedua, menurut survei Bloomberg sebelum rilis data pemerintah Rabu nanti. Harga rebound meskipun Arab Saudi berencana melakukan pemotongan belanja untuk 2016 yang didasarkan pada harga Brent tahun depan dari level $ 37 per barel, menurut John Sfakianakis, ekonom Riyadh berbasis di Ashmore Group Plc dan mantan penasihat pemerintah.
Minyak mentah menuju penurunan tahunan kedua di tengah melimpahnya stok global yang mungkin semakin dalam seiring OPEC secara efektif meninggalkan batas output mereka tidak berubah dan Iran berencana untuk meningkatkan produksi saat sanksi-sanksi untuk negara itu dicabut. Brent, acuan untuk lebih dari setengah minyak dunia, bersiap untuk mengakhiri tahun 2015 dengan harga rata-rata terendah tahunan dalam 11 tahun, memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap negara-negara pengekspor energi dan perusahaan.
Minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari naik $ 1,06 untuk menetap di level $ 37,87 per barel di New York Mercantile Exchange. Volume perdagangan yakni 58 persen di bawah rata-rata 100-hari pada pukul 02:52 siang waktu setempat.
Brent untuk pengiriman Februari naik $ 1,17, atau 3,2 persen, ke level $ 37,79 per barel di London berbasis ICE Futures Europe exchange. Minyak patokan Eropa ini ditutup pada diskon 8 sen ke WTI. Brent diperdagangkan lebih rendah dari WTI minggu lalu untuk pertama kalinya dalam 11 bulan setelah AS memutuskan untuk mengangkat pembatasan pada ekspor minyak mentah. (sdm)
Sumber: Bloomberg