PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Registrasi dilakukan dengan cara yang cepat, aman dan mudah

Sunday, 10 May 2015

Suku Bunga Tiongkok Dipangkas Lagi, Ketiga Kalinya Dalam 6 Bulan Terakhir

BESTPROFIT FUTURES MALANG (11/5) - Paska tingkat inflasi Tiongkok periode April yang ternyata masih belum sesuai harapan dirilis, bank sentral Tiongkok (PBOC) segera memangkas suku bunga acuannya hari ini (10/5/2015) untuk ketiga kalinya dalam kurun enam bulan terakhir untuk mecegah terjadinya deflasi dan untuk menangkal perlambatan ekonomi akibat kemerosotan di bidang properti yang masih berkepanjangan.
Adapun suku bunga tahunan lending diturunkan 0,25 persen menjadi 5,1 persen, dan suku bunga deposito tahunan dengan jumlah yang sama juga dipangkas menjadi 2,25 persen. PBOC menyampaikan bahwa rate ini akan mulai efektif diberlakukan Senin (11/5/2015).
Para pembuat kebijakan di PBOC mengambil langkah ini setelah inflasi masih menunjukkan pergerakan yang lambat dan ekspor impor juga menunjukkan kemerosotan yang cukup tajam di bulan April. Kondisi ini jelas sangat tidak mendukung target pertumbuhan ekonomi Tiongkok di tahun ini di kisaran 7 persen. Para petinggi di Tiongkok melihat pertumbuhan ekonomi di “menolong” perekonomian Tiongkok.
Namun bukan hanya PBOC yang dituntut untuk mengatas perlambatan ekonomi Tiongkok. Pasalnya, reformasi struktural juga sangat dinantikan oleh para pelaku pasar di Tiongkok terutama dalam hal meningkatkan peran perusahaan swasta, sektor jasa dan belanja konsumen. Reformasi struktural bidang ekonomi dinilai sangat perlu dilakukan mengingat sudah hampir sekitar 12 tahun lalu Tiongkok kerap mempersulit investor asing untuk berinvestasi di negaranya melalui berbagai regulasi yang berat sebelah dan cenderung merugikan investor asing.
Selain itu perusahaan-perusahaan negara juga dinilai membutuhkan reformasi. Negara harus mendefinisikan ulang apa yang menjadi priorioritasnya. Tidak semua yang dianggap sebagai “industri strategis” juga serta merta harus dikuasai negara. Perusahaan pelat merah semacam itu menikmati keuntungan yang sangat besar, jika dibandingkan pesaing lain di pasar atau bahkan membangun monopoli di sektornya masing-masing. Kita tidak bisa menyebutnya sebagai ekonomi pasar bebas. Reformasi di dalam struktur perusahaan negara juga menjadi salah satu faktor penting.

Pada akhirnya dapat disimpulkan masih banyak yang harus dikerjakan oleh para petinggi Tiongkok untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di negaranya. Selain itu pemanfaatan lemahnya Yuan saat ini juga dinilai bisa cukup membantu perekonomian Tiongkok dengan harapan dapat menggenjot ekspornya di bulan mendatang.

Sumber : Vibiznews