PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Registrasi dilakukan dengan cara yang cepat, aman dan mudah

Sunday, 17 May 2015

Sektor Yang Sedang Menghancurkan Bisnis Industri di Amerika Serikat

BESTPROFIT FUTURES MALANG (18/5) - Pekan ini tingkat produksi industri Amerika Serikat (AS) periode April dilaporkan kembali turun memasuki bulan kelimanya berturut-turut, Penurunan ini dilansir disebabkan oleh penurunan yang terjadi atas output pertambangan dan utilitas. Seperti diketahui produksi tambang di AS dilaporkan turun 0,8 persen karena pengeboran minyak dan sumur gas jatuh 14,5 persen, penurunan ini memasuki bulan keempatnya berturut-turut. Sementara itum produksi utilitas juga anjlok 1,3 persen, disebabkan oleh berkurangnya permintaan akibat cuaca yang lebih hangat untuk pemanasan.
Rilis data ini menyambung rilis data pertumbuhan ekonomi AS untuk kuartal pertama lalu yang juga mengalami perlambatan, sehingga banyak ekonom yang yakin bahwa pada kuartal kedua ini ekonomi AS masih akan tertahan laju rebound nya. Seperti dilaporkan The Fed, tingkat output industri AS turun 0,3 persen di bulan April setelah di bulan sebelumnya juga mencatat penurunan yang serupa.
Angka pertumbuhan tingkat produksi di bulan April ini masih belum sesuai dengan prediksi ekonom yang sebelumnya memperkirakan produksi industri di Negeri Paman Sam ini minimal dapat mencatat kenaikan tipis sebesar 0,1 persen dari bulan sebelumnya. Tidak hanya rilis ini saja yang meleset dari prediksi ekonom, pasalnya rilis data penjualan ritel AS di bulan April pun juga dilaporkan cukup lemah.
Memasuki kuartal kedua tahun ini terlihat jelas bagaimana ekonomi negara terkuat di dunia ini kehilangan momentum pemulihannya setelah pertumbuhan yang melambat tiba-tiba pada kuartal pertama. Sementara itu tidak jauh berbeda dengan output industri, output manufaktur AS di bulan April juga tidak berubah setelah mencatat kenaikan sebesar 0,3 persen yang tercatat di bulan Maret. Penggunaan kapasitas industri dilaporkan turun menjadi 78,2 persen, terendah sejak Januari tahun lalu, dimana kala itu tercatat sebesar 78,6 persen. 

Sumber : Vibiznews