PT.BESTPROFIT FUTURES Jl. Letjen S Parman No.59 Kav.1,3-5 Malang
Register on your mobile device . make your move easier

Sunday, 31 August 2014

Harga Emas LLG Kembali Dapat Tumpuan Geopolitik, Nilai Dollar AS Beri Perlawanan

Harga emas LLG pada penutupan perdagangan pekan lalu, 25-29 Agustus 2014, terpantau ditutup dengan penguatan secara agregat sepekan. Penguatan harga emas LLG disebabkan oleh faktor kembalinya dorongan fundamental dari peningkatan tensi konflik Ukraina-Rusia meskipun pergerakn Dollar AS terus menekan pergerakan hampir sepanjang pekan.
Pergerakan harga emas pada pekan lalu, terpantau lebih didominasi dalam trend penguatan sepanjang pekan. Tercatat, 3 dari 5 hari perdagangan sepanjang pekan lalu diwarnai dengan peningkatan harga emas spot. Walaupun demikian, pergerakan sepanjang pekan lalu lebih didominasi oleh tekanan dari pergerakan bursa global dan juga nilai Dollar AS.
Pada awal pekan, tekanan nilai Dollar AS dan bursa saham global sangat terlihat di dua hari awal perdagangan. Pergerakan yang masih minim sentimen pada kedua hari tersebut membuat tindakan investor lebih dilandasi oleh fluktuasi Dollar AS dan pergerakan bursa global meskipun dalam kedua hari tersebut pergerakan emas tidak searah.
Pergerakan harga emas di hari pertama perdagangan, harus ditutup melemah akibat penguatan nilai Dollar AS dan bursa saham global. Penguatan kedua hal tersebut memicu pelemahan daya beli investor serta peralihan pola investasi dari safe haven yang memiliki return lebih rendah. Namun pergerakan melemah pada hari pertama perdagangan tersebut, cukup tertahan oleh adanya laporang penurunan keyakinan bisnis di Jerman. Laporan keyakinan bisnin Jerman yang turun dari level 108 ke 106,3 memicu penguatan harga emas akibat dorongan sentimen perekonomian Eropa.
Pengaruh pergerakan nilai Dollar AS pun masih terlihat cukup dominan pada perdagangan hari kedua pekan lalu. Sempat tertahannya rally pada Dollar AS sempat membuat harga emas melambung akibat penguatan aksi beli. Penguatan aksi beli pun mendapat support dari kondisi teknikal yang telah jenuh sehingga harga emas sempat melambung. Namun, kembali bergerak menguatnya nilai Dollar AS akibat data keyakinan konsumen AS yang meningkat dari 90,3-92,4 membuat penguatan harga emas tergerus di akhir perdagangan meskipun masih dapat ditutup menguat.
Dasar dorongan penguatan harga emas yang berhasil memicu emas dapat ditutup menguat secara agregat sepekan pun, akhirnya mulai muncul pada perdagangan hari ke-3. Kabar adanya gugatan Ukraina terhadap Rusia terkait laporan keberadaan pasukan Rusia di Ukraina, membuat investor kembali menarik fokus ke konflik kedua negara tersebut. Dampak dari hal tersebut, pergerakan pun terpantau mulai cukup kokoh menghijau sejak Rabu pekan lalu sehingga dapat ditutup menguat meskipun nilai Dollar AS relatif masih tinggi.
Kelanjutan dorongan yang cukup membuktikan kokohnya dorongan geopolitik global pun terpantau pada perdagangan Kamis pekan lalu. Laporan NATO yang menyatakan keberadaaan 1000 pasukan Rusia di Ukraina membuat harga emas kian kokoh menguat. Bahkan data perekonomian AS yang positif pada rilis hari tersebut pun tidak mampun menahan penguatan harga emas. Adapun data-data penting AS tersebut bahkan tergolong sangat vital yakni GDP AS yang dilaporkan naik dari -2,1% ke 4,2% dan klaim pengangguran awal AS yang membaik dari level 299.000 ke level 298.000.
Namun, pergerakan rally harga emas pada 3 hari perdagangan pekan lalu harus diakhir pada perdagangan akhir pekan lalu. Sentimen negatif laporan pendapatan personal AS yang turun membuat indikasi daya beli Amerika Serikat melemah. Adapun data yang menunjukan penurunan pendapat personal AS dari 0,5% ke 0,2% menjadi determinan pelemah selain kembali menguatnya bursa saham global pada hari perdagangan tersebut.
Pada penutupan perdagangan pekan lalu, harga emas LLG terpantau ditutup menguat secara agregat sepekan. Harga emas LLG ditutup menguat 0,51% ke tingkat harga $1.287,20/t oz atau menguat $6,50/t oz.
Sementara pada penutupan perdagangan emas berjangka di Bursa Comex, harga emas juga ditutup menguat secara agregat sepekan. Harga emas berjangka Comex untuk kontrak Desember 2014 ditutup naik 0,56% ke tingkat harga $1.287,4/t oz atau menguat $7,2/t oz.
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memprediksi harga emas masih akan mendapatkan dorongan penguatan dari faktor geopolitik global pada pekan ini. Namun, pergerakan harus mewaspadai rilis-rilis data penting seperti data manufaktur AS, rapat ECB dan BoE, GDP Uni Eropa, dan data pekerja AS sebagai dfaktor-faktor yang diperkirakan akan menjadi sentimen kuat. Terkait pergerakan harga, range normal diprediksi akan berada di kisaran $1.260-$1.310 pada emas LLG dan $1.265-$1.310 pada emas berjangka Comex kontrak Desember 2014.

Sumber : Vibiznews

Bursa Saham Asia Melemah Jelang Rilis Data PMI China

BESTPROFIT FUTURES (1/9) - Bursa Saham Asia melemah, dipimpin oleh saham-saham alat kesehatan, hal tersebut akibat para investor mengkaji eskalasi ketegangan di Ukraina yang akan memicu sanksi baru terhadap Russia dan menunggu rilis data manufaktur China.

Indeks MSCI Asia Pacific melemah sebesar 0.1% ke level 147.81 pukul 9:02 pagi waktu Tokyo. Pada Agustus lalu indeks acuan tersebut mengalami penurunan sebesar 0.6%, penurunan bulanan pertama sejak April lalu. Pemerintah Uni Eropa menyepakati untuk memberikan sanksi baru jika konflik di Ukraina semakin memburuk, sehingga European Commission dalam sepekan terakhir membuat proposal yang diperkirakan akan menargetkan sanksi kepada sektor energy dan industri keuangan Russia.

Manufaktur PMI China yang akan dirilis hari ini diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan yang melambat untuk pertama kalinya dalam 6 bulan terakhir, dengan ekonom memeprkirakan berada pada level 51.2, turun dari 51.7 di Juli lalu. Angka pembacaan akhir manufaktur PMI China dari HSBC Holdings Plc dan Markit Economic akan dirilis hari ini, setelah angka pembacaan awal turun di level 50.3, level terendah sejak Mei lalu. Angka pembacaan diatas 50 memberikan sinyal kenaikan.

Indeks NZX 50 Index Selandia Baru melemah sebesar 0.2%. Indeks S&P/ASX 200 Australia satgnan. Indeks Topix Jepang menguat sebesar 0.2% dan Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0.1%. Sementara Bursa Saham China dan Hong Kong belum buka. (bgs)

Sumber : Bloomberg

Cari Pinjaman Beli Pesawat Airbus, Saham GIAA Belum Keluar Dari Konsolidasi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. mengumumkan tengah mencari pendanaan untuk membeli 18 unit pesawat Airbus. Diperkirakan dan tersebut berjumlah US$810 juta setara dengan Rp9,3 triliun. Garuda mencari pinjaman bertenor 10-12 tahun untuk membeli 8 unit pesawat dengan tipe A320 dan 10 unit pesawat A320 Aircraft incorporting the New Engine Option (neo Aircraft). Kedua jenis pesawat itu akan diproduksi pada 2016-2018 dengan tipe transaksi pinjaman bertenor 10-12 tahun pembiayaan.
Perseroan mengundang calon-calon penawar untuk berpartisipasi dalam proses lelang pembiayaan tersebut. pinjaman yang akan dicari perseroan memiliki skema beli-sewa atau leasing. Pesawat yang akan dibeli itu diperuntukkan bagi anak usaha Garuda, Citilink.
Sebelumnya, GIAA telah memperoleh pinjaman senilai US$200 juta  yang diperoleh dari Emirates NBD dan Standard Chartered Bank yang merupakan sindikasi dari beberapa bank di Timur Tengah.
Secara fundamental kondisi keuangan, neraca perseroan memang tengah tertekan. Tercatat Rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) Garuda yang tercatat mencapai 1,1 kali, dinilai terlalu ketat untuk mendukung kinerja perseroan. Hingga akhir Juni 2014, total utang Garuda mencapai US$1,2 miliar dengan nilai ekuitas mencapai US$1 miliar. Sehingga, DER perseroan mencapai 1,1 kali dengan utang jatuh tempo tahun ini mencapai US$200 juta-US$300 juta.
Menilik kabar dari lantai bursa perdagangan saham hari Jumat (29/8/14), saham GIAA dibuka pada level 432 dan ditutup pada level 433  dalam kisaran 430 – 436 dan  volume perdagangan saham GIAA mencapai 4 juta lot saham dan terus bertambah
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting melihat sisi indikator teknikal, harga saham GIAA sejak awal bulan Agustus terlihat terus mengalami penguatan dan saat ini bergerak konsolidasi. Indikator MA sudah bergerak sepanjang bolinger band atas. Selain itu indikator stochastic mulai bergerak ke area jenuh beli.
Sementara indikator ADX terpantau bergerak naik didukung oleh +DI yang juga bergerak flat yang menunjukan pergerakan GIAA dalam konsolidasi. Dengan kondisi teknikalnya dan didukung fundamentalnya, diprediksi laju GIAA akan menguat terbatas dan rawan koreksi dan menunggu sentimen fundamental yang menggerakan GIAA. Saat ini level support berada pada Rp420 hingga resistance Rp440.

Sumber : Vibiznews

Minyak Mentah WTI Turun Pasca Gain Tertinggi Selama 6 Bulan Terakhir

BESTPROFIT FUTURES (1/9) - Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun setelah naik tertinggi sejak Februari lalu seiring produksi minyak mentah OPEC meningkat ke level tertingginya dalam satu tahun terakhir. Brent turun di London.
Kontrak berjangka tergelincir sebesar 0,3 persen di New York setelah naik selama empat hari terakhir sejak 29 Agustus kemarin. Organisasi Negara Pengekspor Minyak menaikkan output dari 891.000 barel menjadi 31 juta barel per hari pada bulan lalu, menurut data yang disurvei oleh Bloomberg terhadap perusahaan minyak, produsen dan para analis. Pasukan Irak memasuki kota Amirli, melanggar pengepungan yang diberlakukan oleh militan Negara Islam yang berlangsung selama lebih dari dua bulan, menurut seorang ulama Syiah-Muslim senior . Pasar AS ditutup karena liburan Hari Buruh pada hari ini.
Minyak WTI untuk pengiriman bulan Oktober turun sebesar 25 sen ke level $ 95,71 per barel di perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange dan berada di level $ 95,72 pukul 8:40 pagi waktu Seoul. Volume semua berjangka yang diperdagangkan sebesar 14 persen di bawah rata-rata 100 hari. Minyak mentah WTI melemah sebesar 2,3 persen pada bulan Agustus dan merosot sebesar 2,7 persen tahun ini.
Minyak Brent untuk pengiriman bulan Oktober sebesar 9 sen lebih rendah ke level $ 103,10 per barel di London berbasis ICE Futures Europe exchange. Minyak mentah acuan Eropa diperdagangkan dengan premi sebesar $ 7,38, dibandingkan WTI sebesar $ 7,23 pada akhir pekan lalu. (knc)
Sumber : Bloomberg

Dollar Tahan Gain Jelang Rilis Data Manufaktur

BESTPROFIT FUTURES (1/9) - Dollar mempertahankan gain terhadap mayoritas mata uang lainnya menjelang rilis data manufaktur China dan zona Eropa. Sementara minyak mentah turun dan palladium naik pasca Indeks Standard & Poor 500 menguat ke rekor barunya.

Dollar AS berada pada level $1.3135 per euro pukul 7:58 pagi waktu Tokyo, setelah 29 Agustus lalu naik ke level 1 tahun tertingginya akibat rilis data yang menunjukkan inflasi Zona Eropa bulan lalu melambat ke laju terendahnya sejak 2009 silam. Dollar mendekati level 7 bulan tertingginya terhadap yen. Sementara itu, minyak di New York untuk pertama kalinya turun dalam 5 hari terakhir pada perdagangan elektronik, dengan Bursa Saham AS tutup untuk memperingati Labor Day dan palladium naik sebesar 0.3%. Indeks Berjangka S&P 500 melemah sebesar 0.1% setelah acuan kontrak tersebut ditutup pada level 2,003.37.

Spekulasi para pembuat kebijakan yang akan melanjutkan dukungan mereka terhadap ekonomi ditopang oleh gain bulanan tertinggi sejak Februari lalu pada bursa saham global, sementara dollar menguat dan obligasi reli telah menyebabkan imbal hasilnya tumbang. Meskipun bank sentral dari Australia hingga Zona Eropa pada pekan ini akan mengadakan pertemuan, output manufaktur menjadi fokus utama dengan sektor manufaktur dari China, Japan, India dan Zona Eropa yang dijadwalkan akan rilis hari ini. Di akhir pekan lalu Pemerintah Uni Eropa mengadakan voting guna memberikan sanksi kepada Russia sehingga hal tersebut menyebabkan konflik dengan Ukraina semakin memburuk. (bgs)

Sumber : Bloomberg

Thursday, 28 August 2014

Pemerintah AS Berhasil Recovery Ekonominya, PDB Kuartal Kedua Tetap Melonjak

Pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal kedua tahun ini kembali menunjukkan lonjakan seperti yang dilaporkan Biro Analisis Ekonomi untuk perkiraan kedua rilis data PDB kuartal II-2014. Dari laporan biro tersebut menunjukkan   PDB tahunan kuartal kedua secara basis tahunan  naik  4,2 persen, yang lebih tinggi dari perkiraan pertama untuk pertumbuhan sebesar 4 persen.
Pertumbuhan ini disebabkan oleh pertumbuhan  investasi bisnis dan ekspor memberikan kontribusi lebih untuk pertumbuhan. Peningkatan PDB riil pada kuartal kedua ini  terutama tercermin kontribusi positif dari pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), investasi persediaan swasta, ekspor, investasi tetap non hunian, negara dan belanja pemerintah daerah, dan investasi tetap perumahan. Impor, yang merupakan pengurangan dalam perhitungan PDB.
Indeks harga untuk pembelian domestik bruto, yang mengukur harga yang dibayar oleh warga AS  meningkat 1,9 persen pada kuartal kedua, peningkatan yang sama seperti pada perkiraan sebelumnya dan indeks ini naik 1,4 persen pada kuartal pertama. Tidak termasuk harga makanan dan energi, indeks harga untuk pembelian domestik bruto meningkat 1,7 persen, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 1,3 persen.
Pengeluaran konsumsi pribadi  meningkat 2,5 persen pada kuartal kedua, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 1,2 persen pada kuartal pertama. Barang tahan lama meningkat 14,3 persen, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 3,2 persen. Barang tahan lama meningkat 1,9 persen pada kuartal kedua, jumlah ini tidak berubah dari sebelumnya. 
Selain itu biro ini juga melaporkan  investasi tetap non hunian meningkat 8,4 persen pada kuartal kedua, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 1,6 persen pada kuartal pertama. Investasi dalam struktur nonhunian meningkat 9,4 persen, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 2,9 persen.
Jumlah ekspor riil barang dan jasa meningkat 10,1 persen pada kuartal kedua, berbeda dengan penurunan 9,2 persen pada kuartal pertama. Impor riil barang dan jasa meningkat 11,0 persen, dibandingkan dengan peningkatan sebesar 2,2 persen.
Dan untuk pengeluaran konsumsi riil pemerintah federal dan investasi bruto menurun 0,9 persen pada kuartal kedua, dibandingkan dengan penurunan 0,1 persen pada kuartal pertama. Untuk biaya pertahanan nasional meningkat 0,9 persen, berbeda dengan penurunan 4,0 persen.  Dari semua data ini terlihatlah kondisi ekonomi AS pada kuartal kedua tahun ini menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Sumber : Vibiznews

WHO: Dua puluh Ribu Orang akan Terinfeksi Ebola

BESTPROFIT FUTURES (29/8) - Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan wabah mematikan Ebola di Afrika Barat dapat menginfeksi lebih 20.000 orang sebelum dapat dikendalikan.
Badan PBB tersebut mengatakan jumlah kasus kemungkinan sudah lebih tinggi empat kalinya dibandingkan 3.000 orang yang tercatat saat ini.
WHO juga meminta maskapai penerbangan untuk melanjutkan penerbangan "penting" di kawasan, dengan mengatakan pelarangan penerbangan mengancam usaha mengatasi epidemi.
Sampai sejauh ini 1.552 orang tewas di Liberia, Sierra Leone, Guinea dan Nigeria.
Saat mengumumkan rencana aksi WHO dalam mengatasi wabah ini, Asisten Direktur Jenderal WHO Bruce Aylward mengatakan "jumlah kasus sebenarnya kemungkinan dua hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan yang saat ini dilaporkan" pada sejumlah daerah.
Pejabat WHO tersebut mengatakan kemungkinan adanya 20.000 kasus "adalah sebuah skala yang saya pikir tidak pernah terpikirkan sebelumnya terkait dengan wabah Ebola".
Rencana aksi WHO memerlukan dana sebesar US$489 juta dalam sembilan bulan ini, di samping 750 pekerja internasional dan 12.000 pekerja nasional di Afrika Barat.
Sumber : BBC

Yen Menguat Seiring Meningkatnya Ketengangan di Ukraina

BESTPROFIT FUTURES (29/8) - Yen menguat terhadap sebagian besar mitra utama seiring meningkatnya ketegangan antara Rusia dan Ukraina mendorong permintaan untuk aset haven.
Mata uang Jepang memangkas kenaikan terhadap dolar pasca laporan menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal kedua. Yen menguat seiring presiden Ukraina mengadakan pertemuan dengan dewan keamanan, sementara rubel Rusia melemah. Euro mendekati level 11-bulan terendahnya terhadap dolar sebelum data inflasi zona euro dirilis besok sementara Krona Swedia turun tajam dalam delapan pekan terakhir terhadap mata uang bersama pasca penjualan ritel mengalami penurunan.
Yen menguat sebesar 0,2 persen ke level 103,70 per dolar pukul 16:18 di New York. Mata uang Jepang naik sebesar 0,3 persen ke level 136,71 per euro. Euro merosot sebesar 0,1 persen ke level $ 1,3183.
Sumber: Bloomberg

Emas Naik ke Level Satu Pekan Tertinggi Akibat Ketengangan di Ukraina

BESTPROFIT FUTURES (29/8) - Emas berjangka naik ke level tertingginya dalam lebih dari sepekan terakhir akibat meningkatnya ketegangan di Ukraina sehingga mendorong permintaan aset haven. Perak naik.
Presiden Ukraina Petro Poroshenko berjanji untuk meningkatkan pertahanan negaranya terhadap apa yang sebelumnya ia disebut "de facto" dari serbuan Rusia pasca separatis pro-Rusia meningkatkan serangan di wilayah timur. AS mengatakan Rusia mungkin mengarahkan serangan, dan Perancis dan Jerman mengancam pemerintah Presiden Vladimir Putin dengan sanksi lebih lanjut.
Bullion telah naik sebesar 7,3 persen tahun ini akibat kekerasan yang terjadi di Eropa Timur dan Timur Tengah menghidupkan kembali daya beli investor. Penguatan menentang perkiraan bearish dari bank termasuk Goldman Sachs Group Inc, dan emas telah mengungguli langkah-langkah komoditas yang luas, ekuitas global dan Treasuries pada tahun 2014.
Emas berjangka untuk pengiriman Desember naik sebesar 0,5 persen untuk menetap di level $1,290.40 pukul 1:50 di Comex New York, setelah menyentuh level $1,297.60, tertinggi untuk kontrak teraktif sejak 20 Agustus lalu.
Logam mulia mengupas keuntungan pasca sebuah laporan pemerintah menunjukkan ekonomi AS berkembang lebih dari perkiraan sebelumnya pada kuartal kedua. Harga emas turun sebesar 3 persen pada Juli kemarin di tengah kekhawatiran bahwa pertumbuhan yang lebih cepat akan mendorong Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga, meredamnya permintaan untuk nilai lindung inflasi. (izr)
Sumber: Bloomberg

Bursa Saham AS Ditutup Turun Terkait Konflik Di Ukraina

BESTPROFIT FUTURES (29/8) - Saham-saham AS turun mengirim Indeks Standard & Poor 500 di bawah level 2.000 terkait kekerasan di Ukraina dan pendapatan ritel yang mengecewakan membayangi data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi melebihi dari perkiraan.
Indeks S & P 500 turun sebesar 0,2 persen ke level 1,996.9 pukul 16:00 di New York, memangkas penurunan sebelumnya sebesar 0,5 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah sebesar 41,67 poin, atau 0,2 persen, ke level 17,080.34.
Indeks ekuitas AS rebound sekitar 4,6 persen dari level tiga bulan terendahnya sejak 7 Agustus lalu terkait spekulasi Federal Reserve akan mempertahankan tingkat suku bunga ultra rendahnya seiring menguatnya perekonomian. Indeks S & P 500 ditutup menembus level 2.000 untuk pertama kalinya pada 26 Agustus kemarin. (knc)
Sumber : Bloomberg

Wednesday, 27 August 2014

Ekspor Nonmigas Ke Jepang Dilaporkan Naik, Data Agustus

Ekspor nonmigas ke negara Jepang menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkini menunjukkan kinerja yang membaik dan perkembangan tersebut ditunjukkan dengan adanya kenaikan pada nilai ekspor nonmigas. Nilai pada bulan Juni dilaporkan dapat mencapai nilai 1214.4 juta Dollar AS . 
Sementara itu pada bulan sebelumnya ekspor nonmigas ke negara tersebut hanya mencapai nilai 1161.8 juta Dollar AS. Dengan demikian kinerja ekspor nonmigas pada periode tersebut mengalami peningkatan sebesar + 52.60 juta Dollar AS, atau naik sebesar + 4.52 %.
Data terkini dari Badan Pusat Statistik juga menunjukkan bahwa ekspor nonmigas dari awal tahun ini sampai bulan Juni secara total mencapai angka 7108.3 juta Dollar AS. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya penurunan sebesar -1042 juta Dollar AS atau turun sekitar -12.78 %, dimana pada periode yang sama tahun lalu hanya mencapai nilai 8150.3 juta Dollar AS.
Indikator fundamental ekonomi GfK German Consumer Climate dilaporkan turun ke angka 8.6 dari nilai pada periode sebelumnya yaitu 8.9. Penurunan tersebut menunjukkan performa yang lebih buruk dari estimasi sejumlah ekonom, yang memperkirakan akan tetap berada di angka 8.9. Nilai tukar Euro terpantau bergerak turun merespon perkembangan tersebut.

Sumber : Vibiznews

Impor Nonmigas Dari Jepang Dilaporkan Meningkat, Rilis BPS Agustus

Perkembangan impor nonmigas dari negara asal Jepang mengacu kepada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkini menunjukkan kenaikan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kenaikan pada nilai impor nonmigas dari negara tersebut dimana nilai pada bulan Juni dilaporkan dapat mencapai angka sekitar 1529.2 juta Dollar AS (CIF).
Sementara itu kinerja impor nonmigas pada bulan sebelumnya hanya mencapai nilai 1257.6 juta Dollar AS . Dengan demikian kinerja impor nonmigas pada rentang waktu Mei – Juni mengalami peningkatan sebesar + 271.6 juta Dollar AS, atau sekitar + 21.59 %.
Laporan terkini dari Badan Pusat Statistik juga menunjukkan bahwa impor nonmigas dari awal tahun ini sampai bulan Juni secara total mencapai nilai 8672 juta Dollar AS. Data ini menunjukkan adanya penurunan sebesar -1089.8 juta Dollar AS atau sekitar -11.16 %, dimana pada periode yang sama tahun lalu hanya mencapai nilai 9761.8 juta Dollar AS.
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting mengemukakan bahwa pada analisa kurs BI hari ini Yen Jepang terpantau bergerak melemah sekitar -2.19 % terhadap mata uang Rupiah pada perdagangan valas dari awal Jui hingga pekan ini.

Sumber : Vibiznews

Emas Turun untuk kali Kedua dalam Tiga Hari Terkait Kurangnya Minat Investor

BESTPROFIT FUTURES (28/8) - Emas berjangka turun untuk kedua kalinya dalam tiga hari terakhir terkait tanda-tanda memudarnya permintaan investor untuk logam sebagai aset alternatif.
Pengelolaan uang telah memangkas spekulasi mereka pada reli emas dalam tiga dari empat pekan terakhir, dan open interest di New York berjangka dan harga opsi mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir, data dari pemerintah AS menunjukkan. Indeks Standard & Poor 500 mendatar pasca penutupan di atas level 2.000 untuk pertama kalinya kemarin.
Emas berjangka untuk pengiriman Desember turun sebesar 0,1 persen untuk menetap di level $1,283.40 per ons pada pukul 1:44 di Comex di New York. Harga emas menyentuh level $1,273.40 pada 21 Agustus lalu, terendah sejak Juni lalu.
Harga emas telah meningkat 6,7 persen tahun ini karena kekerasan di Ukraina mendorong permintaan aset haven.
Perak berjangka untuk pengiriman Desember naik sebesar 0,1 persen ke level $19,475 per ons di Comex.
Di New York Mercantile Exchange, platinum berjangka untuk pengiriman Oktober naik kurang dari 0,1 persen ke level $1,419.90 per ons. Palladium berjangka untuk pengiriman Desember melonjak sebesar 0,5 persen ke level $ 894,70 per ons.
Kepemilikan reksadana berbasis paladium yang ditransaksikan dibursa terbesar kemarin tergelincir 3,8 metrik ton menjadi 91,6 ton, penurunan terbesar sejak 2007 lalu, ketika data yang dihimpun oleh Bloomberg dimulai. Aset naik ke rekor tertingginya sebesar 95,9 ton pada 4 Agustus lalu. (izr)
Sumber: Bloomberg

Euro Menguat Dari level 11 Bulan Terendahnya

BESTPROFIT FUTURES (28/8) - Euro naik dari level terendahnya dalam hampir satu tahun terakhir karena dinginnya spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa akan menambah stimulus moneter lebih lanjut pada pertemuannya pekan depan.
Mata uang 18-negara (Euro) naik untuk pertama kalinya dalam empat hari terakhir terhadap dolar pasca sebuah laporan Reuters yang mengutip sumber dari pejabat ECB yang tidak dikenal mengatakan bahwa bank sentral tidak mungkin untuk menambah stimulus kecuali laporan inflasi Agustus menimbulkan risiko deflasi. Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble mengatakan kemarin bahwa komentar oleh Presiden ECB Mario Draghi mengadvokasi dukungan untuk kebijakan fiskal zona euro yang "over-ditafsirkan." Mata uang Selandia Baru menguat, sementara lira Turki naik ke level tertingginya dalam dua pekan terakhir.
Euro menguat sebesar 0,2 persen ke level $1,3195 pukul 14:41 di New York pasca jatuh ke level $1,3153, level terendah sejak 6 September lalu. Euro naik sebesar 0,1 persen ke level 137,12 yen. Dolar melemah sebesar 0,1 persen ke level 103,92 yen setelah menyelesaikan kenaikan selama tujuh hari terakhir itu penguatan terpanjang sejak Juli lalu. (izr)
Sumber: Bloomberg

Saham AS Kehilangan Momentum Seiring Valuasi

BESTPROFIT FUTURES (28/08) - Rally saham yang mendorong Indeks Standard & Poor 500 tembus level 2.000 kehilangan sedikit momentumnya saat ini.
Indeks S & P 500 naik sebesar 0,1 poin ke level 2,000.12 pukul 04:00 waktu New York dengan sekitar jumlah yang sama saham naik seiring dengan saham yang turun. Sekitar 4,2 miliar saham ditransaksikan di bursa AS, yang merupakan volume perdagangan terendahnya sejak 3 Juli lalu, rilis data yang disurvei oleh Bloomberg.
Pasar global terlampaui diatas krisis di Ukraina, Jalur Gaza dan Irak karena para investor memperbaharui spekulasi stimulus yang akan menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi. Aksi unjuk rasa dari Brasil hingga Jepang dan Indeks AS menembus level diatas 2.000 untuk pertama kalinya telah mengirim nilai ekuitas global ke rekor baru tertingginya sebesar $ 66 triliun.
Indeks S & P 500 naik hampir 5 persen sejak 7 Agustus lalu, didorong oleh spekulasi bahwa Federal Reserve akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga ultra rendahnya karena menguatnya ekonomi. Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi juga telah mengisyaratkan para pembuat kebijakan dapat mempertimbangkan memperkenalkan rencana pembelian aset. (knc)
Sumber : Bloomberg

Tuesday, 26 August 2014

Rilis BPS Agustus, Ekspor Nonmigas Ke Negara Utama Lainnya Dilaporkan Turun

Ekspor nonmigas tujuan Negara Utama Lainnya menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkini , menunjukkan perkembangan melemah. Hal tersebut ditunjukkan dengan berkurangnya nilai ekspor nonmigas ke negara-negara ini, dimana nilai pada bulan Juni dilaporkan hanya mencapai nilai 5992.5 juta Dollar AS .

Sementara itu pada bulan sebelumnya ekspor nonmigas ke negara tersebut dapat mencapai nilai 6105.2 juta Dollar AS. Dengan demikian kinerja ekspor nonmigas pada periode Mei – Juni mengalami pelemahan sebesar -112.7 juta Dollar AS, atau berkurang sebesar -1.84 %.

Laporan terbaru dari BPS juga menunjukkan bahwa ekspor nonmigas dari awal tahun ini sampai bulan Juni secara total mencapai nilai 36532.2 juta Dollar AS. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya penurunan sebesar -2271.8 juta Dollar AS atau sekitar sekitar -5.85 %, dimana pada periode yang sama tahun lalu mencapai nilai 38804 juta Dollar AS.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting mengemukakan bahwa pada analisa kurs BI hari ini Dollar Amerika Serikat terpantau bergerak naik sekitar 0.28 % terhadap mata uang Rupiah pada perdagangan valas dari awal Juni hingga pekan ini.

Sumber : Vibiznews

Impor Nonmigas Dari Negara Utama Lainnya Dilaporkan Naik, Data BPS Agustus

BESTPROFIT FUTURES (27/8) - Perkembangan impor nonmigas dari Negara Utama Lainnya mengacu kepada laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkini menunjukkan meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kenaikan pada nilai impor nonmigas dari negara-negara tersebut dimana nilai pada bulan Juni dilaporkan dapat mencapai angka sekitar 6947.6 juta Dollar AS (CIF).
Sementara itu kinerja impor nonmigas pada bulan sebelumnya hanya mencapai nilai 6114.7 juta Dollar AS . Dengan demikian kinerja impor nonmigas pada rentang waktu Mei – Juni mengalami peningkatan sebesar + 832.90 juta Dollar AS, atau sekitar + 13.62 %.
Laporan terkini dari Badan Pusat Statistik juga menunjukkan bahwa impor nonmigas dari awal tahun ini sampai bulan Juni secara total mencapai nilai 38594.2 juta Dollar AS. Data ini menunjukkan adanya penurunan sebesar -1399.3 juta Dollar AS atau sekitar -3.49 %, dimana pada periode yang sama tahun lalu hanya mencapai nilai 39993.5 juta Dollar AS.
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting mengemukakan bahwa pada analisa kurs BI hari ini Dollar Amerika Serikat terpantau bergerak naik sekitar 0.28 % terhadap mata uang Rupiah pada perdagangan valas dari awal Juni hingga pekan ini.

Sumber : Vibiznews

Euro Melemah ke Level Terendah dalam Hampir Satu Tahun Terakhir

BESTPROFIT FUTURES (27/8) - Euro jatuh ke level terendahnya dalam hampir setahun terakhir terhadap dolar terkait dengan spekulasi Bank Sentral Eropa (ECB) yang akan meningkatkan stimulus moneternya sementara AS bergerak ke arah kenaikan suku bunga.
Greenback ditransaksikan pada hampir di level enam bulan tertingginya terhadap sekeranjang mata uang utama seiring kepercayaan konsumen AS secara tidak terduga meningkat. Dolar Selandia Baru turun ke level terendahnya dalam enam bulan terakhir pasca neraca perdagangan negara mengalami defisit. Lira Turki naik terkait tanda-tanda bank sentral dapat menghentikan pelonggaran moneternya dan riil Brasil naik di tengah spekulasi jajak pendapat pemilih yang akan menunjukkan berkurangnya dukungan untuk presiden incumbent. ECB akan mengadakan pertemuan kebijakan pada pekan depan.
Euro turun sebesar 0,1 persen ke level $ 1,3176 pukul 03:31 di New York, menyentuh level terendahnya sejak 9 September lalu, euro ditransaksikan turun 0,1 persen ke level 137,11 yen. Sementara itu, dolar stagnan pada level 104,06 yen. (izr)
Sumber: Bloomberg

Emas Naik Tajam dalam Dua Pekan Akibat Ketegangan di Ukraina Tingkatkan Permintaan

BESTPROFIT FUTURES (27/8) - Emas naik tajam dalam lebih dari dua pekan terakhir karena meningkatnya ketegangan perbatasan antara Ukraina dan Rusia, meningkatkan permintaan logam mulia sebagai lindung nilai.
Presiden Rusia Vladimir Putin memulai pembicaraan hari ini dengan Presiden Ukraina, Petro Poroshenko. Ukraina mengatakan bahwa 12 prajurit dan 200 pemberontak tewas dalam 24 jam terakhir.
Tahun ini, emas telah naik sebesar 6,9 persen terkait turbulensi geopolitik di wilayah Gaza, Irak dan Eropa Timur menambah tanda-tanda perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Konflik antara pemerintah Ukraina dan separatis pro-Rusia telah menewaskan lebih dari 2.000 orang sejak Putin mencaplok Crimea pada Maret lalu.
Emas berjangka untuk pengiriman Desember naik sebesar 0,5 persen untuk menetap di level $1,285.20 per ons pada pukul 1:40 siang di Comex New York, kenaikan terbesar untuk kontrak teraktif sejak 6 Agustus lalu. Volume perdagangan sebesar 21 persen di bawah level RSI 100 hari untuk hari ini, data yang dihimpun oleh Bloomberg menunjukkan.
Sementara itu, bullion telah merosot ke level terendahnya dalam dua bulan terakhir di level $1,273.40 pada 21 Agustus lalu, terkait kekhawatiran bahwa Federal Reserve yang akan menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat dari yang diharapkan. Ketua Fed Janet Yellen mengatakan dalam sebuah forum di Jackson Hole, Wyoming, pada hari berikutnya bahwa jika kemajuan dalam pasar tenaga kerja "terus meningkat daripada yang diantisipasi," kenaikan suku bunga dapat dilaksanakan lebih cepat dari saat ini diharapkan, dan kenaikan lebih lanjut bisa lebih cepat. (izr)
Sumber: Bloomberg

Rally Saham AS Mengangkat S & P 500 Tembus Level 2.000

BESTPROFIT FUTURES (27/8) - Saham-saham AS naik mengirimkan Indeks Standard & Poor 500 tembus level 2.000, seiring laporan menunjukkan ke level tertingginya terhadap melonjaknya pesanan barang tahan lama dan kepercayaan konsumen secara tak terduga meningkat.
Indeks S & P 500 naik sebesar 0,1 persen ke level 2,000.05 pukul 04:00 waktu New York. Indeks Dow Jones Industrial Average menguat sebesar 29,76 poin, atau 0,2 persen, ke level 17,106.63 pada hari ini, yang merupakan level tertingginya sepanjang masa hari ini.
Rilis data hari ini menunjukkan pesanan untuk barang tahan lama AS melonjak sebesar 23 persen pada bulan Juli lalu seiring melonjaknya pemesanan untuk pesawat komersial. Sebuah pertunjukan udara di Inggris membantu mendorong lonjakan sebesar 318 persen dalam pesanan pesawat komersial, yang merupakan kenaikan terbesarnya sejak Januari 2011 lalu. Pesanan untuk barang modal non-militer termasuk pesawat komersial pada bulan lalu mengalami penurunan sebesar 0,5 persen diikuti peningkatan pada bulan Juni lalu sebesar 5,4 persen.
Indeks kepercayaan konsumen dari Dewan Konferensi menguat sebesar 92,4 pada bulan ini, level tertingginya sejak Oktober 2007 silam, direvisi dari level sebelumnya sebesar 90,3, menurut kelompok riset swasta.
Indeks S & P 500 melonjak selama tiga minggu terakhir dan lebih dari $ 1 triliun telah ditambahkan ke nilai ekuitas Amerika merupakan level terendahnya dalam dua bulan terakhir sejak 7 Agustus kemarin di tengah spekulasi bank sentral yang akan terus mempertahankan tingkat suku bunga mendekati nol terkait meningkatnya perekonomian. (knc)
Sumber : Bloomberg

Monday, 25 August 2014

Indeks Kurs Euro Mengalami Tekanan (26/08/14)

Pada pergerakan forex dini hari ini ( 26 Agustus ), indeks kurs Euro secara umum menunjukkan pergerakan turun terhadap beberapa mata uang utama lainnya setelah dibuka pada 108.05 di awal perdagangan (00.00 GMT), mata uang tersebut telah turun sekitar -19 pips atau sekitar -0.17 % dan pada saat berita ini diturunkan nilai bergulir terpantau berada pada 107.86.
Sentimen negatif terhadap Euro nampak menguat setelah Ifo Institute for Economic Research melaporkan kepada publik bahwa terjadi pelemahan pada iklim bisnis di Jerman, melebihi dugaan sebelumnya
Perkembangan tersebut ditunjukkan dengan penurunan pada indikator fundamental German Ifo Business Climate yang melemah 106.3 dari nilai pada periode sebelumnya yaitu 108. Laporan yang kurang menguntungkan tersebut menunjukkan kinerja yang lebih rendah dari estimasi sejumlah ekonom, yang memperkirakan hanya akan turun ke angka 107.1. Mata uang Euro terpantau bergerak melemah merespon perkembangan tersebut.
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting mengemukakan analisis fundamental forex harian kurs Euro bahwa range normal indeks Euro pada hari ini diperkirakan akan memiliki level support pada kisaran 108.07 dan level resistance pada kisaran 108.45.

Sumber : Vibiznews

Dollar AS (26/08/14) Nampak Bergerak Retreat

Nilai tukar Dollar AS pada dini hari ini ( 26 Agustus ) nampak melemah terhadap Franc Swiss . Dibuka pada 0.9165 di awal perdagangan (00.00 GMT), mata uang tersebut telah turun sekitar -9 pips atau sekitar -0.10 % dan nilai bergulir tampak berada pada kisaran 0.9155.
Sentimen negatif terhadap Dollar AS nampak menguat setelah Census Bureau melaporkan kepada publik bahwa sektor perumahan di Amerika Serikat mengalami pelemahan, yang bahkan lebih buruk dari yang diperkirakan sebelumnya.
Perkembangan tersebut ditunjukkan dengan penurunan pada indikator fundamental New Home Sales yang melemah ke angka 412K dari nilai pada periode sebelumnya yaitu 422K. Laporan yang kurang menguntungkan tersebut menunjukkan kinerja yang lebih buruk dari estimasi sejumlah ekonom, yang memperkirakan akan dapat naik ke angka 426K. Mata uang Dollar AS terpantau bergerak menekan Dollar AS merespon perkembangan tersebut.
Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting mengemukakan analisis fundamental forex harian Dollar AS bahwa range normal pergerakan Dollar AS/Swissie pada hari ini diperkirakan akan memiliki level support pada kisaran 0.9119 dan level resistance pada kisaran 0.9194.

Sumber : Vibiznews

Emas Kembali Turun Pasca Minggu Suram

BESTPROFIT FUTURES (26/8) - Emas kembali turun pasca ditutup positif pekan lalu, tergelincir pada hari Senin karena para pedagang dan banker bank sentral terus mengkaji ancaman kenaikan suku bunga dan seiring penumpukan pasukan Rusia di dekat perbatasan Ukraina yang memicu kegelisahan global.
Emas untuk pengiriman Desember turun sebanyak $ 1,30 untuk menetap di level $1,278.90 per ons di divisi Comex New York Mercantile Exchange. Perak September turun 3 sen menjadi berakhir pada level $ 19,36 per ons.
Penjualan rumah baru mencapai level terendahnya dalam empat bulan terakhir, namun negatifnya laporan makroekonomi gagal untuk menyalakan dukungan terhadap aset safe haven untuk emas. Ekuitas AS, sementara itu, merangkak naik, dengan indeks S&P 500 naik ke rekor baru intradaynya hingga menembus level 2.000.
Harga emas ditutup pada Jumat lalu dengan catatan positif, tapi masih mengalami kerugian sebesar 2% untuk pekan ini. Itulah kinerja mingguan terburuk dalam satu bulan terakhir, dengan data pemerintah yang memacu kekhawatiran bahwa The Fed dapat menentukan pulihnya ekonomi dapat mendorong kenaikan tingkat suku bunga acuan. (izr)
Sumber: MarketWatch

Indeks S & P 500 Ditutup Tembus Level 2.000 Untuk Pertama Kalinya

BESTPROFIT FUTURES (26/8) - Saham-saham AS naik mengirimkan Indeks Standard & Poor 500 tembus level 2.000 untuk pertama kalinya, seiring membuat kesepakatan perusahaan dan prospek untuk meningkatkan kepercayaan terhadap stimulus perekonomian di bull market.
Indeks S & P 500 menguat sebesar 0,5 persen ke level 1,997.98 pada pukul 04:00 di New York, memangkas gain pada sore hari ini pasca bertahan di atas level 2.000 selama kurang dari dua jam dan mencapai level 2,001.95. Indeks Dow Jones Industrial Average meningkat sebesar 75,78 poin, atau 0,5 persen ke level 17,077.
Indeks S & P 500 telah meningkat hampir 100 poin selama perdagangan ke level terendahnya sejak 7 Agustus lalu, naik sembilan dari 12 hari untuk menghapus penurunan sebesar 3,9 persen yang dimulai sejak 24 Juli lalu. Indeks acuan ekuitas AS telah naik selama tiga minggu terakhir dan lebih dari $ 900 miliar yang telah ditambahkan untuk nilai ekuitas Amerika. (knc)
Sumber : Bloomberg

Indeks S & P 500 Tembus Ke Level 2.000 Seiring Dollar, Obligasi Eropa Menguat Terkait Spekulasi ECB

BESTPROFIT FUTURES (26/8) - Indeks Standard & Poor 500 tembus ke level 2.000 untuk pertama kalinya seiring saham-saham mengalami rally terkait spekulasi penawaran dan prospek untuk meningkatkan stimulus Eropa. Dolar naik ke level 11 bulan tertingginya dan obligasi imbal hasil Jerman tenor dua tahun turun di bawah nol.
Indeks S & P 500 naik sebesar 0,4 persen ke level 1,997.24 pukul 12:41 di New York, pasca meningkat sebesar 2,001.95. Dolar ditransaksikan sebesar 0,3 persen ke level $ 1,32 per euro, yang merupakan level tertingginya sejak 9 September lalu. Indeks Stoxx Europe 600 naik sebesar 1,1 persen ke level tertingginya sejak Juli lalu, di bawah rata-rata perdagangan seiring pasar financial Inggris ditutup untuk liburan. Obligasi imbal hasil Jerman tenor dua tahun merosot ke level terendahnya sejak 2012 lalu. Obligasi imbal hasil Italia dan Spanyol tenor 10-tahun turun ke level terendahnya sepanjang masa sejalan dengan obligasi imbal hasi Belgia tenor dua tahun. Syikal melemah ke level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir pasca bank sentral secara tak terduga menurunkan tingkat suku bunga acuannya.
Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi dan ketua Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda mengangkat kemungkinan langkah-langkah untuk mendukung pertumbuhan selama pertemuan gubernur bank sentral. Ketua Federal Reserve Janet Yellen mengatakan masih melemahnya pasar tenaga kerja, meskipun meningkatkan suku bunga bisa dinaikkan lebih cepat daripada yang diperkirakan. Saham Burger Raja Worldwide Inc melonjak sebesar 20 persen terkait pembicaraan untuk membeli saham Tim Hortons Inc dalam penghematan pajak bergerak. Penjualan rumah baru di AS turun tak terduga pada Juli lalu.
Indeks S & P 500 menguat sebesar 1,7 persen pekan lalu untuk kenaikan mingguan terbesarnya sejak April lalu, mencapai level tertingginya pada 21 Agustus kemarin. Indeks acuan telah menguat hampir 100 poin selama perdagangan ke level terendahnya sejak pada 7 Agustus kemarin, naik sembilan dari 12 hari untuk menghapus penurunan sebesar 3,9 persen yang dimulai sejak 24 Juli lalu. Indeks acuan menguat lebih dari $ 900 miliar harga ekuitas di tengah spekulasi bank sentral akan mempertahankan suku bunga ultra rendahnya dan karena meredanya kekhawatiran atas krisis dari Ukraina hingga Irak.
Tiga putaran stimulus The Fed dan pendapatan perusahaan lebih baik dari perkiraan telah membantu indeks S & P 500 naik hampir tiga kali lipat dari level terendahnya sejak Maret 2009 silam. Indeks S & P 500 mengalami penurunan sebesar 10 persen dalam hampir tiga tahun terakhir. Indeks S & P 500 diperdagangkan 18 kali laba yang dilaporkan perusahaan tersebut, yang merupakan level tertinggi sejak 2010 lalu. (knc)
Sumber : Bloomberg

Sunday, 24 August 2014

Lomba HUT RI ke 69

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Republik Indonesia ke 69, diadakan Perlombaan yang bertempat di halaman kantor PT.Bestprofit Futures Malang. Perlombaan yang diikuti oleh seluruh karyawan PT. Bestprofit Futures Malang ini terdiri dari lomba makan kerupuk lalu dilanjut dengan lomba kostum terunik. Yang mana hadiah khusus tersedia untuk masing-masing pemenang perlombaan. Acara ini juga diadakan untuk mempererat rasa persaudaraan serta kekompakan diantara seluruh karyawan PT. Bestprofit Futures Malang. 
Berikut ini ada beberapa photo yang diambil saat acara berlangsung.....






















Semoga acara ini semakin menumbuhkan rasa cinta tanah air serta kebanggaan menjadi Bestprofiters bagi selutruh karyawan....
ALL THE BEST.......

Puluhan orang dirawat di rumah sakit karena gempa AS

BESTPROFIT FUTURES (25/08) - Sebuah gempa berkekuatan 6,0 mengguncang California utara, Amerika Serikat menyebabkan korban cedera dan kerusakan bangunan.

Gempa terjadi pada pukul 03:20 waktu setempat (10:20 GMT) 6 km arah barat laut kota American Canyon, pada kedalaman 6,7 mil.

Paling tidak 87 orang dibawa ke rumah sakit di daerah Napa, tiga di antaranya luka berat.

Gubernur California Jerry Brown sudah menyatakan keadaan darurat untuk mengatasi dampak gempa.

Para pejabat di Napa lewat sebuah pernyataannya menyebutkan gempa merusak empat rumah dan membuat 16 bangunan "tidak bisa dihuni" di samping menyebabkan "paling tidak 50" pipa utama gas rusak, serta 30 kebocoran saluran air.

Tiga gedung bersejarah rusak dan dua bangunan komersial "rusak berat", lanjut pernyataan tersebut.

Lebih 10.000 rumah tangga tidak memiliki listrik di Napa, sekitar enam mil dari pusat gempa, di samping daerah sekitarnya, kata Perusahaan Gas dan Listrik Pasifik.

Pusat pengungsian Palang Merah telah dibangun di sebuah gereja di kota.

Tweet Patroli Jalan Raya California di daerah Teluk San Francisco menyebutkan "sedang memeriksa tanda-tanda kerusakan jembatan dan penyeberangan" dan meminta penduduk untuk melaporkan masalah.

Sumber : BBC

Pro Kontra RAPBN 2015: Perilaku Pasar Masih Relatif Wajar dan Normal

Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2015 baru saja disampaikan beberapa waktu lalu. RAPBN 2015 adalah APBN lama untuk pejabat baru. Pada akhir September 2014 nanti RAPBN tersebut akan disahkan oleh legislatif yang lama, tetapi akan tetap diawasi oleh anggota legislatif baru. Adapun RAPBN 2015 adalah RAPBN yang disusun dengan paradigma pembangunan pemerintahan lama, untuk kemudian dilaksanakan pemerintahan baru.
Sebelumnya beberapa media memberitakan bahwa dengan adanya RAPBN 2015 ini maka masa pemerintahan yang baru akan memiliki kebijakan fiskal yang cukup sempit ditahun 2015 mendatang karena sudah hampir sekitar 94 persen dana dianggarkan dan hanya tersisa Rp 20 triliun. Beberapa pihak menyatakan kekhawatirannya hal ini akan menghambat pemerintahan yang baru untuk berfokus pada kebijakan utama mereka karena keterbatasan dana.
Namun nyatanya, pasca diumumkannya RAPBN 2015 ini, para pelaku pasar sepertinya tidak merespon dengan perilaku yang signifikan. Tidak ada antusiasme yang cukup terlihat dari pasar dari pasca diumumkannya RAPBN 2015. Reaksi pasar yang dinilai “adem” ini terjadi karena RAPBBN ini dinilai tidak memiliki misi politik. Pergerakan indeks saham pasca pembacaan Nota Keuangan APBN oleh SBY pun tidak mengalami reaksi yang berarti.
Selain itu, RAPBN 2015 adalah APBN gelondongan tanpa tawaran strategi kebijakan untuk setahun ke depan, sehingga tidak ada tawaran kebijakan yang kontroversial yang dapat memicu reaksi negatif pelaku pasar. Apalagi pasar telah terlanjur meyakini bahwa RAPBN 2015 tersebut hanya bersifat sementara dan akan mengalami revisi begitu pemerintahan resmi berganti.
Dapat dilihat tidak ada responsnya dari para pelaku pasar terhadap RAPBN 2015 ini dengan kurs Rupiah yang tidak mengalami tekanan berarti pasca pengumuman itu. Nilai tukar rupiah hanya sedikit melemah dari Rp 11.725 per dollar AS menjadi Rp 11.751 per dollar AS, melemah 0,2 persen. Adapun pada hari Senin dan Selasa pasca nota keuangan sedikit menguat masing-masing Rp 11.623 per dollar AS dan Rp 11.624 per dollar AS.

Sumber : Vibiznews

Kebijakan Suku Bunga Acuan BOE Masih Menjadi Kontroversi

Hingga saat ini bank sentral Inggris (Bank of England/BOE) masih mempertahankan suku bunga acuan rendahnya. Namun di sisi lain, para investor justru masih terus berekspektasi sebaliknya dimana hampir seluruh pelaku pasar berharap suku bunga acuan BOE segera dinaikkan untuk mempercepat laju pemulihan dan pertumbuhan ekonomi serta sektor bisnis di negaranya.
Demikian juga dengan anggota MPC, beberapa diantara mereka berharap Carney, selaku gubernur BOE segera menaikkan suku bunga BOE dengan melihat beberapa data ekonomi lokal yang mengisyaratkan suku bunga harus segera dinaikkan bertahap. Beberapa data tersebut antara lain turunnya jumlah pengangguran di Inggris.
Seperti kita ketahui, dalam pidato nya beberapa waktu lalu, Carney menyampaikan hal yang bertentangan dengan ekspektasi banyak pihak, Beliau mengatakan bahwa risiko geopolitik yang terjadi di Eropa saat ini justru menjadi salah satu alasan yang cukup kuat bagi BOE untuk tidak menaikkan suku bunga acuannya dulu.
Carney juga menyampaikan proyeksi ekonomi terbarunya untuk Inggris yang memberikan prediksi pertumbuhan yang lebih tinggi ke depannya, meski pertumbuhan upah masih akan berjalan lambat dan tingkat inflasi masih akan tetap di bawah target BOE, sebesar 2 persen hingga tahun 2017 mendatang.
Seperti kita ketahui, BOE telah memangkas suku bunga acuan pertama kalinya menjadi 0,5 persen di bulan Maret 2009 dan hingga saat ini masih terus dipertahankan. Namun saat ini, Carney sedang berfokus terhadap kenaikan upah dalam menjalankan proses pemulihan negaranya.

Sumber : Vibiznews

Sudah Saatnya Suka Bunga Acuan Tiongkok Diturunkan

Melihat kondisi saat ini, beberapa ekonom dan peneliti berpendapat bahwa pemerintah Tiongkok saat ini seharusnya menerapkan kebijakan moneter longgar yang lebih lanjut.
Seperti diketahui saat ini ekonomi Tiongkok kehilangan momentum pertumbuhan ekonominya karena permintaan domestik yang melambat.
Meskipun sekarang Tiongkok seolah sedang berusaha memenuhi target pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 7,5 persen, namun nyatanya jumlah pinjaman yang keluar hingga Juli lalu masih tercatat di level yang cukup rendah. Terjadi penurunan yang cukup tajam dalam hal kredit dan pembiayaan di bulan Juli.
Salah seorang ekonom di Tiongkok, Chen,  menyampaikan bahwa saat ini adalah peluang besar bagi pemerintah dalam memangkas suku bunga acuannya dan rasio persyaratan cadangan (RRR).
Dalam mengemukakan hal ini, tidak hanya Chen seorang diri yang menyatakan hal demikian, beberapa ekonom lain juga berpendapat bahwa kebijakan moneter longgar secara bertahap harus segera diberlakukan seperti yang dilansir oleh Reuters.
Pendekatan kebijakan moneter longgar yang diterapkan secara bertahap ini akan menyebabkan arus kas masuk ke dalam system perekonomian tidak secara mendadak. Pendekatan seperti ini akan memancing masyarakat untuk berpikir bahwa kebijakan moneter telah berubah dari yang relatif ketat untuk menjadi cukup longgar, sehingga dapat mendorong perusahaan dan rumah tangga untuk meningkatkan kegiatan konsumsinya.
Para ekonomi Tiongkok ini menyerukan penurunan suku bunga karena melihat lambatnya pertumbuhan di Negara ini mulai dari sisi investasi, penjualan di sektor retail dan bahkan tingkat pinjaman bank terpantau cukup menurun drastis.
Menanggapi hal ini pemerintah Tiongkok beranggapan bahwa sebenarnya mereka sudah mulai secara bertahap menerapkan kebijakan moneter longgar sejak April lalu dengan menurunkan RRR untuk bank-bank kecil dalam rangka meningkatkan jumlah kredit, mengurangi kontrol di pasar properti, dan mempercepat pembangunan infrastruktur.
Hingga saat ini, Chen masih cukup optimis atas risiko yang lebih besar terjadi di pasar property Tiongkok, di mana harga turun memasuki bulan ketiga berturut-turut pada bulan Juli. Setelah sempat kuat pada tahun 2013 lalu, sektor perumahan Tiongkok mulai kembali melambat pada tahun ini.
Sumber : Vibiznews